bongkar rumah sendiri
By : Unknown
Malam itu hujan deras aku suamiku juga teman-temanku sinta endi dan kokom terjebak hujan di desa kalong liud. Kami berlima memang berniat jalan-jalan malam. tapi malang menimpa kami. belum sampai ke tempat tujuan kami terpaksa berhenti di samping balai desa tepatnya di suatu posyandu.
Kami berteduh di tempat tersebut cukup lama. ya lumayan lah cukup membuat kita semua BT. Setelah hujan reda kami sepakat untuk mengurungkan niat kami. Bergegaslah kita untuk puter balik.
Dari pada kebersamaan kami sia-sia suamiku pun mengusulkan untuk kumpul di rumah, tanpa panjang lebar ketiga temanku langsung menyetujuinya. Tapi sedikit masalah, “kom lu ikut gak?” ajak sinta. Rupanya kokom ragu-ragu dia takut kakaknya tau dan memarahinya. Ternyata kokom pergi tanpa pamit. dia kabur bukan tanpa alasan melainkan walaupun dia pamit pasti tak akan di izinkan. dengan berbagai bujukan akhirnya kokom ikut.
Aku sumiku dan sinta sedikit lebih cepat di depan. dan sampai lebih dulu di rumah. Aku yang saat itu basah kuyup segeralah menggati pakaian. Malam yang indah walau tak jadi jalan-jalan tapi kita masih bisa bersenang-senang dengan penuh canda tawa. menghangatkan suasana rumah yang biasanya sepi.
Tak terasa larut malam menyapa. jarum jam sudah menujuk pukul 9. Kokom harus segera pulang pasti orangtuanya cemas mencarinya. Kecemasan ternyata bukan terjadi pada orangtuanya melainkan pada kami semua yang akan mengantarkan kokom pulang. Tak disangka dan diduga ternyata ence kakak kokom berada tepat depan rumahku. Kami berlima bingung bukan main karena bukan hanya kakaknya ence yang super galak ternyata ayahnya pun tak kalah galak.
Kami berfikir kesana kemari untuk bisa keluar dari rumah tanpa harus diketahui ence. bila ence tahu bahwa kokom ada di rumahku bukan hanya kokom yang akan kena marah tapi kita berlima bisa kena sambitan golok pak wahab yang tajamnya bukan main.
Usul demi usul dilontarkan akhirnya kita sepakat untuk membuka jendela berteralis kamar adikku yang berada tepat di belakang rumah. Segala macam peralatan telah dikeluarkan rupanya jendela ini memang sukar untuk di taklukan. Bagai gaya seorang pencuri suamiku dan endi melakukannya dengan sangat hati-hati dan rapi.
Berkat kerja sama dan kekompakan akhrnya jendela tersebut dapat di bongkar dan di lewati endi dan kokom. Perasaan senang dan gembira menyelimuti hati kami dengan tenang endi dan kokom bisa pulang denan santai. Tanpa harus terkena marah atupun sambitan golok.
Cerpen Karangan: Finna Kurniawati
Facebook: Finna Kurniawati (keong)
Facebook: Finna Kurniawati (keong)
sumber : via cerpenmu
Tag :
cerita lucu,
mantanmu, gebetanku
By : Unknown
Jumlah gebetan yang pernah bersama denganku selalu berbanding terbalik dengan jumlah mantan yang kukenal. Diibaratkan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami. Pergi ke sana, ketemu mantan, pergi ke sini ketemu mantan. Di mana-mana ada mantan, rasanya duniaku sudah tidak nyaman lagi untuk dihuni. Meski begitu yang menjadikan dunia ini tetap manis adalah dengan kehadiran para “bidadari” gebetan.
Tapi aku tidak sendirian, masih banyak di luar sana yang memiliki nasib sama denganku. Sebut saja kedua temanku yang tidak kalah “rekor”-nya dalam masalah percintaan. Fian, si jangkung berwajah bayi dengan hati yang polos, pengikut aliran PMDK (Pendekatan Mulu Dapet Kagak), serta Ndaru, peserta SBMPTN (Seleksi Bersama Mencari Pasangan Tanpa Ngantri). Aku sendiri adalah Ale, tanpa diulang, salah satu pencetus Undangan, yaitu mencari pasangan melalui jalur undian atau comblangan. Kami bertiga adalah Trio wkwkwk.
Pada kesempatan yang indah dan mempesona kali ini, cinta datang begitu saja tanpa permisi. Kami bertiga, selalu solid dan setia kawan dalam masalah berbagi, kecuali cinta. Kali ini, dewi Fortuna berpihak kepadaku. Belum lama ini aku berkenalan dengan salah seorang gadis bernama Lili.
“Guys! Doain gua di date pertama ini ya!” ucapku kepada kedua sahabatku itu.
“Nge-date? Udah jadian lu bang?” tanya Fian sambil menggunting kuku kakinya dengan posisi manuever “bangau main demprak.”
“Proses, tinggal nunggu clearance nih hehe,” jawabku bangga. Malam itu aku mengenakan pakaian super mewah dan keruwen banget. Saking kerennya jadi keruwen.
“Makan-makan ya le,” sahut Ndaru dari dapur, sedang memasak mie rebus.
“Emang acara arisan apa,” balasku.
“Peje harus turun nih atau kita demo,” timpal Fian.
“Yoooo!” balas Ndaru.
“Berani meres gua nih?” tanyaku.
“Yaelah bang, lu mah ambon doang tapi unyu,” balas Fian.
“Makanya cewek banyak yang suka,” timpalku pede.
“Nge-date? Udah jadian lu bang?” tanya Fian sambil menggunting kuku kakinya dengan posisi manuever “bangau main demprak.”
“Proses, tinggal nunggu clearance nih hehe,” jawabku bangga. Malam itu aku mengenakan pakaian super mewah dan keruwen banget. Saking kerennya jadi keruwen.
“Makan-makan ya le,” sahut Ndaru dari dapur, sedang memasak mie rebus.
“Emang acara arisan apa,” balasku.
“Peje harus turun nih atau kita demo,” timpal Fian.
“Yoooo!” balas Ndaru.
“Berani meres gua nih?” tanyaku.
“Yaelah bang, lu mah ambon doang tapi unyu,” balas Fian.
“Makanya cewek banyak yang suka,” timpalku pede.
Unyu? Apakah aku selucu itu? Sule kalah dong?
Date pertamaku setelah sekian abad menjomblo, hidup dalam kesendirian. Mantan pertamaku seperti cleopatra, aku menjadi budak cintanya. Dan seterusnya, hingga mantan terakhirku adalah atlit silat yang terkemuka. Tidak cuma hatiku yang kelepek-kelepek, wajahku dibuatnya meletek-meletek.
Aku menangis?
Cuma sekali tiap malam kok. Sambil dengerin lagu galau, kalau tidak Kerispatih yang “Mengenangmu” ya lagu Dewa 19 “Pupus”. Namun semuanya berubah ketika aku bertemu dengan Lili. Sosok gadis yang selalu tersenyum, cantik, pintar, dan mudah tertawa. Padahal lawakanku jayus dan garing nampol, akan tetapi ia tetap tertawa mendengarnya. Tawanya indah bagaikan senandung bidadari dari surga, dan suaranya begitu merdu seperti alunan harpa para malaikat.
Cuma sekali tiap malam kok. Sambil dengerin lagu galau, kalau tidak Kerispatih yang “Mengenangmu” ya lagu Dewa 19 “Pupus”. Namun semuanya berubah ketika aku bertemu dengan Lili. Sosok gadis yang selalu tersenyum, cantik, pintar, dan mudah tertawa. Padahal lawakanku jayus dan garing nampol, akan tetapi ia tetap tertawa mendengarnya. Tawanya indah bagaikan senandung bidadari dari surga, dan suaranya begitu merdu seperti alunan harpa para malaikat.
Date malam ini harus sukses!
Kami bertemu di sebuah restoran bintang empat, aku sengaja memesan makan malam khusus nan romantis. Tema “Candlelight” dinner menjadi menu utama malam ini.
“Makasih lho kamu udah mau repot begini,” puji Lili yang malam itu mengenakan gaun merah ciptaan seorang desainer terkenal, yang tak kukenal.
“Ini semua istimewa untuk kamu kok,” sahut mulut buayaku mulai beraksi.
“Tapi kamu romantis banget,” balasnya. “Kamu cowok pertama yang ngajakin aku nge-date di tempat… mewah seperti ini…”
“Kalau jadi pacarku tiap malam juga kita makan di sini,” sahutku.
“Eh? Apa kamu bilang?”
“Eh enggak em… anu mari makan dulu, kasihan makanannya sudah dingin karena terpana dengan kecantikanmu…”
“Ihhh gombal!”
“Ini semua istimewa untuk kamu kok,” sahut mulut buayaku mulai beraksi.
“Tapi kamu romantis banget,” balasnya. “Kamu cowok pertama yang ngajakin aku nge-date di tempat… mewah seperti ini…”
“Kalau jadi pacarku tiap malam juga kita makan di sini,” sahutku.
“Eh? Apa kamu bilang?”
“Eh enggak em… anu mari makan dulu, kasihan makanannya sudah dingin karena terpana dengan kecantikanmu…”
“Ihhh gombal!”
Aku tidak dapat mengingat menu malam itu. Aku tidak dapat menggambarkan cita rasa tiap sendoknya. Yang kuingat dan kuperhatikan hanya Lili seorang, meski makanku jadi belepotan seperti bayi. Sendok di sana, makanan di sini. Tapi Lili begitu perhatian, ia langsung menyeka mulutku dengan penuh kasih sayang. Aku tidak dapat melupakan malam ini.
“Terimakasih ya Ale,” katanya setelah kuantar pulang. Aku mengantarnya hanya sampai depan gerbang.
“Sama-sama,” jawabku senang.
“Gak mampir dulu? Di dalam ada kakak dan adikku, ibu dan ayah juga.”
“Mungkin lain waktu, lagipula sang putri butuh istirahat agar kecantikannya tetap terjaga ya kan?”
Lili hanya tertawa mendengarnya. Soal gombal aku ahlinya, menaklukan hati wanita aku-lah pakarnya.
“Sama-sama,” jawabku senang.
“Gak mampir dulu? Di dalam ada kakak dan adikku, ibu dan ayah juga.”
“Mungkin lain waktu, lagipula sang putri butuh istirahat agar kecantikannya tetap terjaga ya kan?”
Lili hanya tertawa mendengarnya. Soal gombal aku ahlinya, menaklukan hati wanita aku-lah pakarnya.
Beberapa minggu berlalu, hubunganku dengan Lili semakin bertambah erat. Dan sepertinya, kedua sahabatku ini semakin penasaran dengan sosok Lili yang menjadi target operasiku.
“Bro, bawa dong gebetan lu ke sini, kita-kita kan mau kenal!” pinta Fian yang sedang menonton bersama Ndaru.
“Entar deh kalo udah jadi!” kelitku.
“Bilang aja takut tak ambil le,” sahut Ndaru.
“Ah udahlah lu berdua nonton JKT 48 aja deh, gua pergi dulu ya, mau jemput Lili latihan nih!” kataku. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya seusai ia latihan basket di GOR.
“Lili? Jadi namanya Lili?” tanya Fian. “Please banget deh kepo nih kritis, lihat fotonya dong? Ada twitternya?”
Karena tidak tahan melihat wajah mupeng sahabatku, aku memberikan akun twitter Lili, yaitu @leeleeboekanahlay.
“Entar deh kalo udah jadi!” kelitku.
“Bilang aja takut tak ambil le,” sahut Ndaru.
“Ah udahlah lu berdua nonton JKT 48 aja deh, gua pergi dulu ya, mau jemput Lili latihan nih!” kataku. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya seusai ia latihan basket di GOR.
“Lili? Jadi namanya Lili?” tanya Fian. “Please banget deh kepo nih kritis, lihat fotonya dong? Ada twitternya?”
Karena tidak tahan melihat wajah mupeng sahabatku, aku memberikan akun twitter Lili, yaitu @leeleeboekanahlay.
“Lho? Ini kan…” kata Ndaru sedikit terkejut melihat avatar Lili di akun tersebut.
“Ada apa Ndar?” tanyaku.
“Namanya bener Lili?” tanya dia.
“Iyo atuh, kenapa deh?”
“Mirip mantanku le,” sahutnya. “Mantanku, tapi aku lupa namanya… Ella atau Bella gitu…”
“Moso toh?” tanyaku.
“Persis banget!” kata Ndaru.
“Yakin lu ndar?”
“Hemm… bulu mata sebelah kirinya lebih panjang dari sebelah kanannya enggak? Atau ada rambut uban yang panjang sendiri deket telinganya…?”
“Ndar,” kataku berwajah datar seperti jalan tol. “Cirinya jangan yang begitu dong, ada ciri lain?”
“Hehe maaf le, coba kamu lihat apa ada tahi lalat di leher belakangnya?”
“Ada apa Ndar?” tanyaku.
“Namanya bener Lili?” tanya dia.
“Iyo atuh, kenapa deh?”
“Mirip mantanku le,” sahutnya. “Mantanku, tapi aku lupa namanya… Ella atau Bella gitu…”
“Moso toh?” tanyaku.
“Persis banget!” kata Ndaru.
“Yakin lu ndar?”
“Hemm… bulu mata sebelah kirinya lebih panjang dari sebelah kanannya enggak? Atau ada rambut uban yang panjang sendiri deket telinganya…?”
“Ndar,” kataku berwajah datar seperti jalan tol. “Cirinya jangan yang begitu dong, ada ciri lain?”
“Hehe maaf le, coba kamu lihat apa ada tahi lalat di leher belakangnya?”
Tahi lalat?
Aku jadi penasaran sekarang. Apa benar Lili adalah “mantan” yang Ndaru maksud? Bila benar, tentunya tidak etis, berpacaran dengan mantan sahabat sendiri. Bukan karena sekon-nya, tapi itu dilarang dalam buku etika bersahabat halaman tiga puluh paragraf dua baris sepuluh kalimat kelima yang berbunyi: “Jangan mengembat apa yang bukan hakmu, ambillah hakmu selain hak temanmu, sekalipun ia melalaikan hak itu.”
Aku jadi penasaran sekarang. Apa benar Lili adalah “mantan” yang Ndaru maksud? Bila benar, tentunya tidak etis, berpacaran dengan mantan sahabat sendiri. Bukan karena sekon-nya, tapi itu dilarang dalam buku etika bersahabat halaman tiga puluh paragraf dua baris sepuluh kalimat kelima yang berbunyi: “Jangan mengembat apa yang bukan hakmu, ambillah hakmu selain hak temanmu, sekalipun ia melalaikan hak itu.”
Oke, aku akan memeriksanya!
Sesuai rencana, aku menjemput Lili dan mencoba melihat tahi lalat di leher belakangnya… tanpa diketahui olehnya tentu.
Sesuai rencana, aku menjemput Lili dan mencoba melihat tahi lalat di leher belakangnya… tanpa diketahui olehnya tentu.
“Ada apa Ale?” tanya Lili yang sedikit risih karena melihat tingkahku yang sedikit “berbeda”.
“Ah enggak,” kelitku, masih mencoba memperhatikan tahi lalat itu.
“Kamu sakit leher?” tanyanya.
“Enggak… eh iya, iya deh! Salah bantal kayaknya!”
“Bantal siapa yang kamu pakai memang?” candanya.
“Bantal Ndaru atau Fian temanku mungkin,” jawabku seadanya.
“Ndaru… katamu?” tanyanya seolah mengingat sesuatu.
“Iya… Ndaru… kenapa?”
“Ah enggak apa-apa…” jawabnya seperti mencoba menyembunyikan sesuatu.
“Ah enggak,” kelitku, masih mencoba memperhatikan tahi lalat itu.
“Kamu sakit leher?” tanyanya.
“Enggak… eh iya, iya deh! Salah bantal kayaknya!”
“Bantal siapa yang kamu pakai memang?” candanya.
“Bantal Ndaru atau Fian temanku mungkin,” jawabku seadanya.
“Ndaru… katamu?” tanyanya seolah mengingat sesuatu.
“Iya… Ndaru… kenapa?”
“Ah enggak apa-apa…” jawabnya seperti mencoba menyembunyikan sesuatu.
Aneh.
Aku jadi semakin penasaran. Jadi aku memakai trik kuno.
Aku jadi semakin penasaran. Jadi aku memakai trik kuno.
“Ada kotoran tuh di lehermu.”
“Eh? Mana?” tanyanya sambil mengibaskan rambut yang menutupi lehernya.
“Itu di belakang!” tunjukku.
“Mana?”
Ah belum kelihatan lagi.
“Eh tuh ada cicak.”
“Eh? Mana? Ih jijik usir dong!”
Aku mengambil kesempatan itu untuk melihat dari dekat. Tak ada. Tak ada ternyata.
Aku lega, ternyata ia bukan orang yang Ndaru maksud… akan tetapi…
“Eh? Mana?” tanyanya sambil mengibaskan rambut yang menutupi lehernya.
“Itu di belakang!” tunjukku.
“Mana?”
Ah belum kelihatan lagi.
“Eh tuh ada cicak.”
“Eh? Mana? Ih jijik usir dong!”
Aku mengambil kesempatan itu untuk melihat dari dekat. Tak ada. Tak ada ternyata.
Aku lega, ternyata ia bukan orang yang Ndaru maksud… akan tetapi…
“Udah gak ada cicaknya?”
“Eh… iya eh udah pergi tuh ke konser,” jawabku.
“Eh… iya eh udah pergi tuh ke konser,” jawabku.
Hubungan ini semakin berjalan ke arah yang jelas, tidak seperti wajahku. Akan tetapi, Lili tampaknya curiga kepadaku. Ia memintaku untuk menemuinya di sebuah hotel di wilayah elit. Dia memintaku untuk datang sendirian. Tapi aku takut, jadi aku mengajak kedua sahabatku untuk menjagaku.
“Haloooo, lu seorang yang ambon berwajah seram bertubuh hercules ini takut sama cewek?” kata Fian.
“Serius takut deh, takut diapa-apain, gimana kalo gua diperk*sa sama dia?” tanyaku.
Fian dan Ndaru memasang wajah datar persis jalan tol. “Lu? Diperk*sa?”
“Nanti gua bukan perjaka lagi deh,” jawabku sedih. “Ayolah! Lagian gua curiga sama dia nih!”
“Gua juga penasaran sih le sama Lili ini…” timpal Ndaru.
“Berani bayar berapa lu bang ngajak kita ke sana?”
“Entar gua comblangin deh lu berdua sama temen gua!” jawabku.
“Ciyus?” tanya Fian.
“Temen lu emang ada yang cantik?” tanya Ndaru.
“Ada banyak! Yaaaa…. ada-lah! Kalo gak salah! Gak gua pacarin aja karena itu temen gua!”
“Serius takut deh, takut diapa-apain, gimana kalo gua diperk*sa sama dia?” tanyaku.
Fian dan Ndaru memasang wajah datar persis jalan tol. “Lu? Diperk*sa?”
“Nanti gua bukan perjaka lagi deh,” jawabku sedih. “Ayolah! Lagian gua curiga sama dia nih!”
“Gua juga penasaran sih le sama Lili ini…” timpal Ndaru.
“Berani bayar berapa lu bang ngajak kita ke sana?”
“Entar gua comblangin deh lu berdua sama temen gua!” jawabku.
“Ciyus?” tanya Fian.
“Temen lu emang ada yang cantik?” tanya Ndaru.
“Ada banyak! Yaaaa…. ada-lah! Kalo gak salah! Gak gua pacarin aja karena itu temen gua!”
Jadi, Trio wkwkwk ini akhirnya pergi bersama. Menuju hotel yang disebutkan oleh Lili. Malam ini, semuanya akan terjawab… kurasa…
“Lantai lima puluh tiga kamar nomor dua,” isi sms Lili kepadaku.
“Tuh baca deh bro! Ngeri ah mainannya udah pesen kamar-kamaran,” kataku.
“Bro,” kata Fian. “Lu kan ambon sangar? Hati lu ternyata hello kitty ya?”
“Bukan bro, itu mah untuk cewek. Kalo teletubbies masih oke deh,” sahutku. “Muka doang serem, hati gua mah selembut salju…”
“Tuh baca deh bro! Ngeri ah mainannya udah pesen kamar-kamaran,” kataku.
“Bro,” kata Fian. “Lu kan ambon sangar? Hati lu ternyata hello kitty ya?”
“Bukan bro, itu mah untuk cewek. Kalo teletubbies masih oke deh,” sahutku. “Muka doang serem, hati gua mah selembut salju…”
Aku menyuruh kedua sahabatku untuk mengikuti dari belakang, dan mengawasi dari belakang.
Langkahku sempat terhenti ketika aku tiba di depan pintu kamar hotel yang dimaksudkan.
Langkahku sempat terhenti ketika aku tiba di depan pintu kamar hotel yang dimaksudkan.
Nafasku memburu. Jantungku terpompa lebih kencang daripada pompa PDAM. Aku siap, tapi tidak siap, eh galau.
Kuketuk pintunya.
“Masuk,” terdengar suara manis dari dalam. Suara Lili. Pasti, atau suara tante kunti yang menyamar dan siap memakanku. Ihh kok jadi mikir yang tidak-tidak.
“Masuk,” terdengar suara manis dari dalam. Suara Lili. Pasti, atau suara tante kunti yang menyamar dan siap memakanku. Ihh kok jadi mikir yang tidak-tidak.
“Ini aku, Ale,” kataku.
“Masuk aja Ale,” pintanya. “Tidak dikunci kok…”
Aku membuka pintu. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam. Aku berjalan pelan. Duh update banget ceritanya kaya orang gaul lagi nge-tweet.
“Masuk aja Ale,” pintanya. “Tidak dikunci kok…”
Aku membuka pintu. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam. Aku berjalan pelan. Duh update banget ceritanya kaya orang gaul lagi nge-tweet.
Aku melihat Lili tengah berdiri membelakangiku, menghadap jendela, memperhatikan langit gelap dan suasana malam kota hiruk pikuk ini. Wajahnya terhalang oleh rambutnya yang panjang.
“Kamu datang sendiri kan?” tanyanya tanpa menoleh kepadaku.
“Eh anu… iya sendiri kok…”
“Bener? Kamu gak bohongin aku kan?”
“Iya…”
“Ada yang mau aku sampaikan sama kamu… sebelumnya,” katanya lalu menoleh. “Seberapa sayang kamu sama Lili?”
“Eh? Kok begitu pertanyaannya?”
“Ya gak apa-apa kan?”
“Aku sayang dan tulus sama kamu. Sejak pertama bertemu, aku tau bahwa aku tidak salah langkah lagi.”
“Banyak cowok yang ngakunya begitu, ujung-ujungnya malah ninggalin… cowok cuma manis di mulut aja!”
“Beda denganku. Aku manis keseluruhan, hehe kamu tau maksudku kan?” candaku. Jayus. Lili tak tertawa.
“Jayus,” katanya.
Seketika aku menyadari sesuatu.
“Eh anu… iya sendiri kok…”
“Bener? Kamu gak bohongin aku kan?”
“Iya…”
“Ada yang mau aku sampaikan sama kamu… sebelumnya,” katanya lalu menoleh. “Seberapa sayang kamu sama Lili?”
“Eh? Kok begitu pertanyaannya?”
“Ya gak apa-apa kan?”
“Aku sayang dan tulus sama kamu. Sejak pertama bertemu, aku tau bahwa aku tidak salah langkah lagi.”
“Banyak cowok yang ngakunya begitu, ujung-ujungnya malah ninggalin… cowok cuma manis di mulut aja!”
“Beda denganku. Aku manis keseluruhan, hehe kamu tau maksudku kan?” candaku. Jayus. Lili tak tertawa.
“Jayus,” katanya.
Seketika aku menyadari sesuatu.
“Di mana Lili?” tanyaku.
“Apa maksudmu…? Aku Lili? Apa kamu lupa Ale?”
“Bukan,” jawabku. “Kamu bukan Lili. Berhenti menipuku dan hentikan permainan ini!”
“Apa maksudmu…? Aku Lili? Apa kamu lupa Ale?”
“Bukan,” jawabku. “Kamu bukan Lili. Berhenti menipuku dan hentikan permainan ini!”
Wanita yang berdiri di hadapanku langsung menepuk tangan dan tertawa.
“Kamu memang hebat, seperti kata Lili padaku,” ujarnya. “Dari mana kamu tau aku bukan Lili?”
“Lili selalu tertawa meski aku jayus. Lili sangat ceria. Kamu jutek.”
“Eh enak aja ya!”
“Lalu… siapa sebenarnya dirimu?”
Belum sempat ia memperkenalkan diri, seseorang yang mengejutkanku.
“Ale? Kamu udah sampe? Jahat nih kak Lala gak kasih tau kalo dia udah sampe!”
“Eh? Lala?” tanyaku.
“Iya Ale… kak Lala adalah kakakku… kami adalah anak kembar,” jawabnya.
“Lili selalu tertawa meski aku jayus. Lili sangat ceria. Kamu jutek.”
“Eh enak aja ya!”
“Lalu… siapa sebenarnya dirimu?”
Belum sempat ia memperkenalkan diri, seseorang yang mengejutkanku.
“Ale? Kamu udah sampe? Jahat nih kak Lala gak kasih tau kalo dia udah sampe!”
“Eh? Lala?” tanyaku.
“Iya Ale… kak Lala adalah kakakku… kami adalah anak kembar,” jawabnya.
“UUUEEEHHHH???” betapa terkejutnya diriku. Lili dan Lala, anak kembar.
“Apa-apaan ini….?” tanyaku seolah tak percaya, atheis, tak percaya, ah sudahlah jayus.
Pintu kamar didobrak. Fian dan Ndaru masuk menerjang.
“Ada apa bang ambon?” tanya mereka, yang terkejut juga karena melihat dua wanita yang sama persis, berdiri di hadapan mereka.
“Ada apa bang ambon?” tanya mereka, yang terkejut juga karena melihat dua wanita yang sama persis, berdiri di hadapan mereka.
“Ndaru…?” tanya Lala terkejut pula.
“Lala….?” tanya Ndaru membalas.
Cinta lama bertemu kembali, CLBK. Ternyata Ndaru pernah berpacaran dengan saudari kembar dari Lili, yakni Lala.
“Lala….?” tanya Ndaru membalas.
Cinta lama bertemu kembali, CLBK. Ternyata Ndaru pernah berpacaran dengan saudari kembar dari Lili, yakni Lala.
Aku langsung menyatakan perasaanku kepada Lili malam itu juga. Lala merestui kami dan Lili menyetujuinya. Akhirnya aku memiliki hubungan yang jelas! Dengan wanita yang kuidamkan sejak awal bertemu.
Lala dan Ndaru sepertinya balikan, tapi itu butuh proses. Tampaknya sih lampu hijau.
Lala dan Ndaru sepertinya balikan, tapi itu butuh proses. Tampaknya sih lampu hijau.
“Reuni yang indah ya,” kata Fian menangis.
“Lho kok lu nangis?” tanyaku.
“Tinggal gua nih yang jomblo.”
Kami tertawa mendengarnya.
“Lho kok lu nangis?” tanyaku.
“Tinggal gua nih yang jomblo.”
Kami tertawa mendengarnya.
“Malam ini gua traktir kita makan!” ucapku.
Semua bersorak.
“Yeee makan enak!” kata Ndaru.
“Makan mewah nih!” timpal Fian.
“Makan di mana Ale?” tanya Lili.
“Kita makan…. di warung pinggir jalan…. katanya nasi gorengnya enak lho!”
“Jayus…” sahut mereka. Kecuali Lili, ia tertawa.
“Eh sebentar deh!” kata Lala. “Aku sekalian ngajak ade kita aja ya!”
“Boleh kan Ale?” tanya Lili menunjukkan wajah imut nan unyu, memohon izin dariku.
Aku mengintip isi dompetku. Ikhlas saja, walau menghela nafas, jatah bensinku harus berkurang bulan ini.
“Adikmu?” tanya Ndaru. “Kamu punya adik lagi La?”
“Iya Ndar… adik perempuan kembarku juga…”
“Eh? Kalian tiga bersaudari kembar semua?” tanyaku.
“Iya…”
“Namanya siapa? Siapa?” tanya Fian senang.
“Lele,” jawab Lili.
Semua bersorak.
“Yeee makan enak!” kata Ndaru.
“Makan mewah nih!” timpal Fian.
“Makan di mana Ale?” tanya Lili.
“Kita makan…. di warung pinggir jalan…. katanya nasi gorengnya enak lho!”
“Jayus…” sahut mereka. Kecuali Lili, ia tertawa.
“Eh sebentar deh!” kata Lala. “Aku sekalian ngajak ade kita aja ya!”
“Boleh kan Ale?” tanya Lili menunjukkan wajah imut nan unyu, memohon izin dariku.
Aku mengintip isi dompetku. Ikhlas saja, walau menghela nafas, jatah bensinku harus berkurang bulan ini.
“Adikmu?” tanya Ndaru. “Kamu punya adik lagi La?”
“Iya Ndar… adik perempuan kembarku juga…”
“Eh? Kalian tiga bersaudari kembar semua?” tanyaku.
“Iya…”
“Namanya siapa? Siapa?” tanya Fian senang.
“Lele,” jawab Lili.
Lele? Yang ada patilnya itu? Pikirku.
“Kamu pasti seneng deh bertemu dia, dia itu modis dan update terus!” jawab Lili.
“Cantik kan adikmu?” tanya Fian.
“Tentu dong!”
“Tapi… kenapa namanya Lele?” bisikku perlahan.
Lala, Lili, dan Lele…
Apa lagi yang lebih parah daripada tiga bersaudari kembar? Yang penting, aku tidak jomblo lagi, itu sudah cukup.
“Cantik kan adikmu?” tanya Fian.
“Tentu dong!”
“Tapi… kenapa namanya Lele?” bisikku perlahan.
Lala, Lili, dan Lele…
Apa lagi yang lebih parah daripada tiga bersaudari kembar? Yang penting, aku tidak jomblo lagi, itu sudah cukup.
Cerpen Karangan: Rafael Stefan Lawalata
Penulis muda namun berpengalaman, menulis untuk berbagi, berbagi kebahagiaan.
Penulis muda namun berpengalaman, menulis untuk berbagi, berbagi kebahagiaan.
sumber: via cerpenmu
Tag :
cerita lucu,
anak kecil lagi ?
By : Unknown
Hari minggu yang cerah. Waktunya bangun pagi, gosok gigi, mandi terus sholat subuh. Kebetulan hari ini sarapan lebih pagi daripada biasanya dengan menu nasi goreng plus telur ceplok.. hehe
“Anak mama yang manis jaga rumah ya, nanti ke pasar beli ikan dan bereskan rumah. Mama hari ini sibuk biasa job,” ucap mama mencium keningku setelah sarapan selesai lalu segera berangkat ke tempat bibi Nisa berbisnis kue kering.
“Mama apaan. Anak mama ini memang manis tapi jangan dianggap kaya anak kecil terus dong. Udah gede nih,” ucapku sebal dengan sikap mama padaku.
Mama hanya berlalu sambil tersenyum. “Iya anak mama yang katanya udah gede,” ucap mama lagi.
“Mama…” What.. ke pasar beli ikan, kalau beres-beres rumah nyapu dan ngepel sudah biasa hari minggu tapi kalau beli ikan biasanya dengan dampingan mama. Ya gak apa-apa lah demi mama.
“Mama apaan. Anak mama ini memang manis tapi jangan dianggap kaya anak kecil terus dong. Udah gede nih,” ucapku sebal dengan sikap mama padaku.
Mama hanya berlalu sambil tersenyum. “Iya anak mama yang katanya udah gede,” ucap mama lagi.
“Mama…” What.. ke pasar beli ikan, kalau beres-beres rumah nyapu dan ngepel sudah biasa hari minggu tapi kalau beli ikan biasanya dengan dampingan mama. Ya gak apa-apa lah demi mama.
Motor sudah siap di depan rumah karena ayahku rajin banget mengeluarkan motor dari rumah seakan mendukung aku untuk cepat-cepat berangkat ke pasar. “Padahal sudah mandi pagi, manis manis gini,” gumamku sambil tersenyum sendiri. Dengan baju santai karena tujuannya ke pasar dan gak lupa pakai kerudung langsung tancap gas.
Suasana pasar sudah ramai maklum jam sudah menunjuk angka setengah sembilan, dan pastinya ini sudah kesiangan kalau ke pasar. “Heeemmm.. ikan lautnya sudah tinggal sedikit. Beli apa ya yang enak,” gumamku sambil mataku melanglang buana kesana kemari mencari incaran ikan yang enak.
“Bibi, ikannya sekilo dong,” ucapku pada penjual ikan gabus. Bibinya lagi sibuk menimbang ikan pesanan pelanggan lain, jadi nunggu sebentar its okey lah.
“Ini dek ikannya,” kata bibi itu memasukkan ikan ke dalam kantong plastik. Aku segera membayar ikan tadi.
“Ini dek ikannya,” kata bibi itu memasukkan ikan ke dalam kantong plastik. Aku segera membayar ikan tadi.
Aku berjalan-jalan sebentar sambil mengulur waktu supaya agak lamaan sedikit. Kulihat sekeliling sesuatu yang ku cari gak kelihatan. Sampai di sebuah lapak bibi penjual telur. “Telurnya dek 1500 satu,” tawar bibi itu. Tau aja kalau mata ini kesana kemari mencari telur. “Baru lo dek, dipilih sendiri mumpung tinggal sedikit.” Bibi ini nyambar aja dengan seribu jurus rayuan supaya aku tertarik.
“Ini bik 5 butir, eh sekalian 6 aja deh supaya uangnya gak susah. Sembilan ribu kan,” ucapku sembari membayar sedangkan bibi itu membungkus telur tadi.
“Adik masih sekolah ya?” tanya bibi itu.
“ehh iya bi,” jawabku mengiyakan karena kaget, padahal sih aku sudah gak sekolah tapi sudah kuliah.
“Sekolah di SMP sini ya dek?” tanya bibi itu lagi dengan wajah meyakinkan.
“ehmm bibi ini saya sudah lulus bi,” jawabku langsung dengan senyumku.
“Mari bi,” sambungku dan meninggalkan bibi itu dengan wajahku yang heran.
Masih saja aku dianggap sekolah, kalau anak SMA mending, ini di sangka anak SMP. Jadi sama siapapun dan di manapun baik itu mama sendiri atau bibi-bibi di pasar tetap aja aku gak dianggap gede, tetap anak kecil lagi. Masih imut-imut mungkin.. hehehe
“Ini bik 5 butir, eh sekalian 6 aja deh supaya uangnya gak susah. Sembilan ribu kan,” ucapku sembari membayar sedangkan bibi itu membungkus telur tadi.
“Adik masih sekolah ya?” tanya bibi itu.
“ehh iya bi,” jawabku mengiyakan karena kaget, padahal sih aku sudah gak sekolah tapi sudah kuliah.
“Sekolah di SMP sini ya dek?” tanya bibi itu lagi dengan wajah meyakinkan.
“ehmm bibi ini saya sudah lulus bi,” jawabku langsung dengan senyumku.
“Mari bi,” sambungku dan meninggalkan bibi itu dengan wajahku yang heran.
Masih saja aku dianggap sekolah, kalau anak SMA mending, ini di sangka anak SMP. Jadi sama siapapun dan di manapun baik itu mama sendiri atau bibi-bibi di pasar tetap aja aku gak dianggap gede, tetap anak kecil lagi. Masih imut-imut mungkin.. hehehe
Cerpen Karangan: Nia Kurnia Latifah
Facebook: Nia Kurnia Latifah
Facebook: Nia Kurnia Latifah
sumber: via cerpenmu
Tag :
cerita lucu,
apa mandi lumpur sama saja ?
By : Unknown
Hawa dingin belum beranjak pergi. masih asik menggoda perempuan di balik selimut merah muda. hembusan lembab sisa hujan semalam agaknya ikut serta, memberi kabar bahwa di luar pintu kamar kulit tropis bakal menggigil kedinginan, bisikan itu seperti terkirim dari surgawi rayuan untuk tetap tergulung dibalut rasa. bergumul dengan mereka pemuja kemalasan yang nggak ketulungan.
Harusnya hari ini jadwal memanjakan diri, akhir pekan yang begitu ditunggu telah datang menghampiri. rencana olahraga kiranya urung jua, terbaring di atas kasur busa dengan sprai bergambar kupu-kupu ungu dan biru sepertinya lebih menggiurkan dari pada usaha ngecilin lingkar perut dan betis. toh semalam juga baru nglembur buat makalah individu pendidikan kewarganegaraan nyaris tanpa kata nyenyak tersirat di benak. pantas jika pagi ini berhasrat menghabiskan dengan berpetualang bersama Aladin.
“… Din, ayo jadi nggak joggingnya? keburu siang nih!”, teriakan dari teras kamar berhasil menahan kedua kelopak mata Dini yang hampir kembali mengatup sempurna.
Maklumlah, hidup di kost memang tidak serta merta sendirian walau tanpa memiliki sanak saudara atau teman dari kota asal. sebenarnya adalah suatu perhatian yang lebih dalam sebuah pertemanan jika orang mengajak dalam hal yang menguntungkan.
ingin memalingkan wajah ke tembok menutup telinga dengan bantal rapat-rapat, namun sayang ajakan itu sudah terlanjur di dengar. rasanya tidak tega mengabaikan ajakan Mbak Zizi, dia sudah seperti kakak kandungku sendiri sampai urusan makan pun jika belum denganku belum juga merasa afdol. paksaan menanggalkan selimut dan beringsut menuju gagang pintu dari besi pun masih dingin.
derit lirih menyertai ketika pintu berangsur dibuka. dari balik pintu sudah berdiri Mbak Zizi dengan training setelan krem dengan jilbab rabbani senada. sepatu cat warna biru tua dengan teknik tali temali silang. rapi. wajahnya juga fresh walau yakin Mbak Zizi belum mandi. mungkin sudah sempat facial dan sikat gigi sebelum jamaah solat subuh tadi.
ingin memalingkan wajah ke tembok menutup telinga dengan bantal rapat-rapat, namun sayang ajakan itu sudah terlanjur di dengar. rasanya tidak tega mengabaikan ajakan Mbak Zizi, dia sudah seperti kakak kandungku sendiri sampai urusan makan pun jika belum denganku belum juga merasa afdol. paksaan menanggalkan selimut dan beringsut menuju gagang pintu dari besi pun masih dingin.
derit lirih menyertai ketika pintu berangsur dibuka. dari balik pintu sudah berdiri Mbak Zizi dengan training setelan krem dengan jilbab rabbani senada. sepatu cat warna biru tua dengan teknik tali temali silang. rapi. wajahnya juga fresh walau yakin Mbak Zizi belum mandi. mungkin sudah sempat facial dan sikat gigi sebelum jamaah solat subuh tadi.
“kok balik molor lagi sih, katanya mau olahraga”. spontan kaget ketika melihat wajahku yang redup dengan mata yang kutahan merem, dan atasan mukena masih kukenakan. kulihat kecewa melanda.
“dingin mbak, minggu depan sajalah”. jawabku nyengir tanpa dosa.
“kemarin kamu kan yang pingin jogging, katanya pingin tau CFD. sayangkan kalau disini tahunya Cuma kampus dan kos doing. dingin karena kamu belum gerak, coba kalau olahraga pasti keringetan”.
“dingin mbak, minggu depan sajalah”. jawabku nyengir tanpa dosa.
“kemarin kamu kan yang pingin jogging, katanya pingin tau CFD. sayangkan kalau disini tahunya Cuma kampus dan kos doing. dingin karena kamu belum gerak, coba kalau olahraga pasti keringetan”.
Memang ku akui setiap Mbak Zizi berucap, telinga yang mendengar pastilah tentram. kata dan gaya bahasanya yang kalem membuktikan bahwa benar dia warga asli Solo. dan aku yang rantau jauh-jauh dari jawa timur, belum pernah keluar lebih jauh dari lingkungan kampus dan kos-kosan.
“iya udah deh Mbak, tunggu sebentar ya.
Vario Mbak Zizi melaju, menyapu jalanan yang masih agak gelap di penuhi gumpalan embun bertebaran menutup sinar lampu-lampu kota sehingga terlihat seperti percikan lembut air yang diterbangkan angin. tanaman di pinggir-pinggir trotoar juga masih sibuk gutasi bak terguyur gerimis.
Sebelum memasuki area Car Free Day di sepanjang jalan Slamet Riyadi, Mbak Zizi memarkir Vario-nya di depan sebuah Toko Roti. lalu berjalan menuju jalan satu arah itu.
Mayoritas pengunjung CFD menunggang kendaraan tak bermesin, sehingga pejalan kaki pun jarang. Persewaan sepatu roda, becak mini, dan kereta cinta bertaburan. hampir semua pengunjung membawa piaraan, dari unggas, mamalia, hingga reptil. Lengkap dah. seru.. namun yang paling seru menurutku adalah yang membawa, maupun berjalan diiringi oleh seekor hewan bukan kambing bukan kucing tapi berbulu dan ikut joging. diikat ketat tali kaku di leher, sesekali memamerkan lidahnya.
rasa was-was, menyergap kalbu. sesekali ku toleh ke kanan, kiri, belakang, tak lupa tetap pandangan ke depan.. jangan-jangan tersentuh pakaian, dipeluk dia maka harus repot-repot mandi lumpur hingga 7 kali dong. dalam ajaran islam, liur mereka najis dan baru bisa di anggap suci pada basuhan ke 7, dan padahal salah satunya kudu di membasuh dengan debu suci. rempong banget. ogah ah. males gilaa. pikirku. namun ada hal yang tak dapat aku ingkari aku ingin. orang yang bawa mesti berkulit putih, mata sipit, rambut pirang. kalaupun laki pasti bagus, altletis soalnya diajakin lari-lari.
“aku jadi ingin banget seperti orang itu deh mbak?” aku menunjuk pemilik yang berhenti membeli sebuah ice cream 2. yang satu di leletkan ke anjingnya.
seraya membenarkan jilbab parisnya yang kleweran kesaput angin, Mbak Zizi menjawab celotehku.
“apa kamu bisa pastikan dia baik- baik saja?”
“mungkin. kalau yang kecil, imut imut itu gampang diredam. hmm… tapi mana mungkin takhayulku terkabul. aneh.
Mbak Zizi yang sedari tadi berlari-lari kecil sudah mulai berkeringat. sementara aku yang jalan lambat belum juga meninggalkan kata “dingin” yang juga jalan bersamaku. nafas pendek serasa sempat terhenti bagai tersedak tiba-tiba. Sambil mengusap kening Mbak Zizi mengajukan permintaan padaku. dia akan berhenti di depan gramedia menunggu hingga toko ini buka seraya rehat sebentar. ingin menambah koleksi novel katanya. okelah aku jalan sendiri juga no problem. itung-itung jalan santai kan olahraga. celetuk dalam hati.
“aku jadi ingin banget seperti orang itu deh mbak?” aku menunjuk pemilik yang berhenti membeli sebuah ice cream 2. yang satu di leletkan ke anjingnya.
seraya membenarkan jilbab parisnya yang kleweran kesaput angin, Mbak Zizi menjawab celotehku.
“apa kamu bisa pastikan dia baik- baik saja?”
“mungkin. kalau yang kecil, imut imut itu gampang diredam. hmm… tapi mana mungkin takhayulku terkabul. aneh.
Mbak Zizi yang sedari tadi berlari-lari kecil sudah mulai berkeringat. sementara aku yang jalan lambat belum juga meninggalkan kata “dingin” yang juga jalan bersamaku. nafas pendek serasa sempat terhenti bagai tersedak tiba-tiba. Sambil mengusap kening Mbak Zizi mengajukan permintaan padaku. dia akan berhenti di depan gramedia menunggu hingga toko ini buka seraya rehat sebentar. ingin menambah koleksi novel katanya. okelah aku jalan sendiri juga no problem. itung-itung jalan santai kan olahraga. celetuk dalam hati.
Jalan semakin menjauh dari Mbak Zizi dan sendirian. Terduduk ketika napas tersengat, kembali jalan lagi. Dan itu terus berulang.
“wah.. lucu sekali. aku duduk di samping seorang anak, mungkin SD dia terlihat cina. anjing kecilnya berbulu lebat. mirip kucing anggora sepupuku di Surabaya.
“namanya Geo kak.. dia kerepotan memegang kendali sebuah tali hitam hitam yang di ikat kuat di leher Geo. Geo menarik sekuat tenaga.
“aku capek Geo. aku ingin istirahat dulu… nadanya terengah-engah. anak ini ternyata bernama shiang rumahnya tak jauh dari area itu. dekat kompleks pasar gedhe.
aku jadi ingin menggandeng Geo, bergumam dalam hati. “kakak mau jalan kesana? dia menunjuk ke arah timur. patung gladak.
“iya shiang… aku masih saja mengajak Geo bercanda. Geo yang jinak juga terlihat melompat-lompat kegirangan.
putih bersih bulunya, lembut dan ringan, hingga angin tak susah mengacak-ngacak setiap helainya. Kupandang semakin dalam persis seperti kucing anggora putih.
“gimana kalo Geo ikut kakak ini, nanti kita ketemu di patung gladak mau kah?.. Shiang mengajak bicara Geo. melompat riang. tali hitam tertarik kencang.
“kakak, boleh kah Geo ikut kakak jogging? … aku sadar anjing itu liurnya najis, tapi talinya yang panjang meyakinkan aku untuk tidak mengenai pakaianku.
“oke. nanti bertemu di sana ya Shiang..
“wah.. lucu sekali. aku duduk di samping seorang anak, mungkin SD dia terlihat cina. anjing kecilnya berbulu lebat. mirip kucing anggora sepupuku di Surabaya.
“namanya Geo kak.. dia kerepotan memegang kendali sebuah tali hitam hitam yang di ikat kuat di leher Geo. Geo menarik sekuat tenaga.
“aku capek Geo. aku ingin istirahat dulu… nadanya terengah-engah. anak ini ternyata bernama shiang rumahnya tak jauh dari area itu. dekat kompleks pasar gedhe.
aku jadi ingin menggandeng Geo, bergumam dalam hati. “kakak mau jalan kesana? dia menunjuk ke arah timur. patung gladak.
“iya shiang… aku masih saja mengajak Geo bercanda. Geo yang jinak juga terlihat melompat-lompat kegirangan.
putih bersih bulunya, lembut dan ringan, hingga angin tak susah mengacak-ngacak setiap helainya. Kupandang semakin dalam persis seperti kucing anggora putih.
“gimana kalo Geo ikut kakak ini, nanti kita ketemu di patung gladak mau kah?.. Shiang mengajak bicara Geo. melompat riang. tali hitam tertarik kencang.
“kakak, boleh kah Geo ikut kakak jogging? … aku sadar anjing itu liurnya najis, tapi talinya yang panjang meyakinkan aku untuk tidak mengenai pakaianku.
“oke. nanti bertemu di sana ya Shiang..
aku berjalan sambil berlari riang. namun aneh orang yang aku temui, berpapasan deganku, selalu terbengong. apakah aku salah? apa aku tak pantas jalan bersama Geo, dia kan bersih, tidak menjijikan kok, kutimpuli dengan keyakinan dalam hati pun dia tak bersentuhan langsung denganku, Cuma tali nya yang aku pegang, itu pun lumayan panjang. aku tetap PD dan tenang saja.
Aku lelah berlari, ingin jalan, namun Geo tetap saja ingin berlari, tali hitam yang kukauikan ke tangan kananku menegang. kupungut saja kudekap ke gendongan. bulunya halus, tubuhnya hangat, tak begitu berat. gak masalah.
Orang-orang semakin menjadi, mereka heran entah apa. memandangku tak henti tanpa kedipan. hingga ke patung gladak. bertemu dengan hiang yang katanya tadi naik piet dikayuh bersama mamanya. dia melepas Geo dari gendonganku. aku pun minta pamit. berbalik arah menemui Mbak Zizi di gramedia.
“udah selesai jalan-jalannya?
“udah kok mbak. aku masih engos-engosan.
kusruput abis teh Gopek yang sudah hampir tidak dingin milik mbak Zizi. hingga tinggal sisa es batu yang ku kunyah puas. ketika mau berjalan memasuki gedung gramed. mbak Zizi berkata..
“Dek, itu liur di jilbabmu dibersihkan dulu…
Astagfirulloh haladhim… aku lupa mbak, kenapa aku tadi melepas talinya, menggendong tubuhnya, mengelus bulunya. tanpa sadar itu anjing yang saya pikir kucing. pagi yang masih dingin itu memaksaku untuk mandi besar dengan komposisi 7 kali yang salah satunya membasuh dengan debu suci. tapi dimana dapat ku cari debu itu, bukannya hari musim kemarau sudah berlalu, bahkan semalam pun tak henti hujan menghalau fajar. apa mandi lumpur sama saja?
Orang-orang semakin menjadi, mereka heran entah apa. memandangku tak henti tanpa kedipan. hingga ke patung gladak. bertemu dengan hiang yang katanya tadi naik piet dikayuh bersama mamanya. dia melepas Geo dari gendonganku. aku pun minta pamit. berbalik arah menemui Mbak Zizi di gramedia.
“udah selesai jalan-jalannya?
“udah kok mbak. aku masih engos-engosan.
kusruput abis teh Gopek yang sudah hampir tidak dingin milik mbak Zizi. hingga tinggal sisa es batu yang ku kunyah puas. ketika mau berjalan memasuki gedung gramed. mbak Zizi berkata..
“Dek, itu liur di jilbabmu dibersihkan dulu…
Astagfirulloh haladhim… aku lupa mbak, kenapa aku tadi melepas talinya, menggendong tubuhnya, mengelus bulunya. tanpa sadar itu anjing yang saya pikir kucing. pagi yang masih dingin itu memaksaku untuk mandi besar dengan komposisi 7 kali yang salah satunya membasuh dengan debu suci. tapi dimana dapat ku cari debu itu, bukannya hari musim kemarau sudah berlalu, bahkan semalam pun tak henti hujan menghalau fajar. apa mandi lumpur sama saja?
Surakarta, Agustus 2013
Cerpen Karangan: Syafi Rilla
Facebook: selehgenje
Facebook: selehgenje
Twitter : @Aloerilla
menulis sebuah fiksi merupakan keasikan tersendiri bagiku. sangat membanggakan apabila teman-teman segan membaca apalagi meninggalkan laman ini dengan apresiasi sebuah komentar atau kritikan. sedikit kalimat sangat membangun semangat untuk terus mencoba menulis tanpa ragu. sedekah yang paling berharga ketika sesuatu begitu diharapkan kehadirannya.
menulis sebuah fiksi merupakan keasikan tersendiri bagiku. sangat membanggakan apabila teman-teman segan membaca apalagi meninggalkan laman ini dengan apresiasi sebuah komentar atau kritikan. sedikit kalimat sangat membangun semangat untuk terus mencoba menulis tanpa ragu. sedekah yang paling berharga ketika sesuatu begitu diharapkan kehadirannya.
sumber: via cerpenmu
Tag :
cerita lucu,
Ada Hantu dimana-mana
By : Unknown
Cerita gue waktu masih SD, gue paling takut sama yang namanya hantu. Di fikiran gue hantu itu suka ngejutin alias surprise. wah berarti hantu romantis dong, bukan bukan! Hantu bukan ngasi surprise terus bawa mobil-mobilan, terus ngasiin dengan muka lugu. bukan bukan! Tapi yang ada, hantu ngejutin dengan cara memandang lo. lo bayangin aja beragam-ragam wajah hantu yang super duper unik dan menyeramkan. Ada yang mukanya gepeng kelindes truk, ada yang bawa gayung. Berarti kemungkinan kematiannya ada dua, di kamar mandi pas lagi mandi, atau di perempatan jalan sewaktu lagi ngemis malah dilindes odong-odong hiii tragis sereemmm. Ada yang perut belakangnya bolong. kalau ini kematiannya mungkin korban malpraktek, soalnya habis ngelahirin. Dokternya kena serangan jantung terus mati, jadi tidak sempat dijahit. Tapi kenapa dia enggak ke tukang jahit aja ya? hmmm 0_0”.
Dari segitu banyaknya hantu, ada hantu yang paling membuat gue penasaran yaitu pocong!!, Menurut gue pocong itu yang paling unyu, pakaiannya itu seperti guling di kasur, bawaanyaa pengen meluk aja 0_0, dan pakaiannya juga seperti lontong bawaannya pengen nyiram dia dengan kuah sayur gori, campur udang sambel, telur dan itu pastinya lezattt sekali #ngilerrrr
Tapi ini pocong broo bukan makanan!!!
Oh iya iya lupa
Apalagi nih ya jalannya, menurut gue pocong ini dulu cita-citanya adalah atlet engklek tapi enggak kesampaian dan keburu mati. Lo lihat aja jalannya gimana.
Bawaannya gue pengen bilang, cong!! Ada nyali lo buat main engklek sama gue. #alis naik
Tapi ini pocong broo bukan makanan!!!
Oh iya iya lupa
Apalagi nih ya jalannya, menurut gue pocong ini dulu cita-citanya adalah atlet engklek tapi enggak kesampaian dan keburu mati. Lo lihat aja jalannya gimana.
Bawaannya gue pengen bilang, cong!! Ada nyali lo buat main engklek sama gue. #alis naik
Aktifitas gue sewaktu SD selain belajar di SD negeri 010086 Kisaran, gue juga belajar ngaji. Jauh banget tempat ngaji gue, seperti lo melakukan perjalanan melewati dua benua, 200 pulau, 180 gunung, dan berjuta juta kebohongan padahal kepeleset taik lincong juga nyampek ‘alias tetangga.
Habis sholat magrib, dengan ganteng pakai lobe, baju koko sambil nenteng iqro.
Nunggu temen–temen di depan rumah biar bareng-bareng ke tempat guru ngaji, padahal gue penakut walapun ngajinya di tempat tetangga.
Sewaktu gue nunggu temen-temen, tetangga gue yang letak rumahnya di samping rumah gue dan di samping rumah guru ngaji gue. Dia bernama Tika! Dia hampirin gue, seperti biasa dia orang yang selalu nakut-nakutin. Bertemu dengan dia itu “Azab” lah buat gue seperti itu gambarannya.
Begitu krusialnya peran dia di hidup gue, bayangin aja.
Ggik!
Pasti lo nungguin temen ya buat sama-sama pergi ngaji. Karena lo takut pergi sendirikn?
Iya, tapi gue enggak takut tuh. Gue Cuma suka perginya rame-rame #sok cool (padahal alesan karena gue penakut).
Berapa detik kemudian temen gue sudah pada datang, leganya terhindar dari “Azab” ngelus dada.
Jalan riang bareng temen-temen ke tempat guru ngaji.
Habis sholat magrib, dengan ganteng pakai lobe, baju koko sambil nenteng iqro.
Nunggu temen–temen di depan rumah biar bareng-bareng ke tempat guru ngaji, padahal gue penakut walapun ngajinya di tempat tetangga.
Sewaktu gue nunggu temen-temen, tetangga gue yang letak rumahnya di samping rumah gue dan di samping rumah guru ngaji gue. Dia bernama Tika! Dia hampirin gue, seperti biasa dia orang yang selalu nakut-nakutin. Bertemu dengan dia itu “Azab” lah buat gue seperti itu gambarannya.
Begitu krusialnya peran dia di hidup gue, bayangin aja.
Ggik!
Pasti lo nungguin temen ya buat sama-sama pergi ngaji. Karena lo takut pergi sendirikn?
Iya, tapi gue enggak takut tuh. Gue Cuma suka perginya rame-rame #sok cool (padahal alesan karena gue penakut).
Berapa detik kemudian temen gue sudah pada datang, leganya terhindar dari “Azab” ngelus dada.
Jalan riang bareng temen-temen ke tempat guru ngaji.
Karena masih kecil. Sambil nunggu giliran ngaji main smackdown dulu sama temen gue si epri, main suit suitan tapi enggak main cewek karena pada saat itu gue belum jadi playboy. Belum di lantik karena belum cukup umur alias masih bocah.
Aneka ragam peralatan ngaji yang di bawa temen-temen gue. Diantaranya telunjuk iqro dan qur’an. Ada yang manual alias pakai tangan, ada yang seperti tusuk gigi. Mungkin punya bapaknya kaliya habis makan terus dipungut #kreatif. ada antena mobil control #ingat awas salah cakap apalagi yang rawan ngucap rrrr jadi *sensorrr. Ada yang pakai lidi, dan untung saja tidak ada yang nelunjuk pakai sapu. Lo bayangin aja kalau ngaji nelunjuk pakai batang sapu, kirai OB mau bersih-bersih, SARAPPP! Tapi untung saja tidak ada, memang si untung lagi libur ngaji, karena gosipnya dia sakit karena keselek durian hmmmm #ngaco
Gue sih telunjuknya manual, dengan tangan gue. Menurut gue lebih safety dan akurat.
Tapi tangan kanan, dan bukan tangan kiri. Karena tangan kiri gue tugasnya banyak, selain untuk ngupil juga sambilan garuk pantat #keceplosan 0_0
Tapi tangan kanan, dan bukan tangan kiri. Karena tangan kiri gue tugasnya banyak, selain untuk ngupil juga sambilan garuk pantat #keceplosan 0_0
Setelah temen satu persatu siap ngaji, mereka langsung pulang.
Satu.. satu.. satu.. satu eh lama-lama tinggal berdua sama si Epri, hancurrr Karena si epri juga penakut.
Beberapa menit kemudian siaplah kami mengaji, disinilah petualangan baru dimulai. Bak seperti batman dan superman yang sedang mengemban tugas menolong orang dengan secepat kilat, kami berpandangan dengan muka yang berkaca-kaca terus berpelukan. Bukan bukan!! Gue bukan HOM*
Mengingat berjuta-juta hantu bersiap mengepung kami.
1…
2…
3… cusss
Secepat kilat, kami mencar epri belok kiri, gue belok kanan tanpa memandang pohon-pohon besar yang terlewati. Karena pohon-pohon menurut gue waktu kecil adalah rumahnya hantu.
Satu.. satu.. satu.. satu eh lama-lama tinggal berdua sama si Epri, hancurrr Karena si epri juga penakut.
Beberapa menit kemudian siaplah kami mengaji, disinilah petualangan baru dimulai. Bak seperti batman dan superman yang sedang mengemban tugas menolong orang dengan secepat kilat, kami berpandangan dengan muka yang berkaca-kaca terus berpelukan. Bukan bukan!! Gue bukan HOM*
Mengingat berjuta-juta hantu bersiap mengepung kami.
1…
2…
3… cusss
Secepat kilat, kami mencar epri belok kiri, gue belok kanan tanpa memandang pohon-pohon besar yang terlewati. Karena pohon-pohon menurut gue waktu kecil adalah rumahnya hantu.
Rintangan pertama telah terlewati, sampailah gue di depan pintu gerbang rumah gue.
Haaa huuu haaa desah nafas gue. Sebelum membuka pagar,
Lagi-lagi “AZAB” menghampiri kali ini berkolaborasi dengan abangnya. Tika dan faisal,
Matilah gue #mirisss
Ggik!
Pasti lo lari-lari ya karena ketakutan? Hahahaha
Iya, tapi gue bukan karena takut. Gue hanya latihan lari, karena di sekolah gue ada lomba lari besok #ngeles (padahal penakut).
Tapi karena tika dan abangnya sudah tau kalau gue penakut, mereka mulai melancarkan usahanya untuk menakut-nakutin gue.
Ggik. Itu di rumah lo, di pohon itu #sambil nunjuk, ‘itu ada kuntilanak kikikikikik seperti itu tertawanya’.
Ucap tika.
Dan itu ggik! ‘Di gerasi rumah lo, ada gundoruwo’ sambut abangnya.
Badannya tinggi, besar, rambutnya gondrong, betanduk dan bergigi merah.
Terlintas di benak gue betapa menyeramkan mereka, ketakutan gue mulai medak-ledak. Gue bayangin seandainya gue berjalan pulang ke rumah, terus di kejutin sama gundoruwo berbadan besar, berambut gondrong, bertanduk dan begigi merah.
Apa reaksi gue?
Mungkin gue uda keciprit-ciprit sampai terkencing di celana, berlari-lari seperti kucing yang sedang kesurupan. Matilah gue. Ngerang-ngerang sambil gigitin besi pagar rumah #miriss
Terbayang-bayang, terngiang-ngiang apa yang diucapkan oleh tika dan abangnya,
Sangkingkan gue takutnya, satu-satunya suara yang gue dengar dengan jelas adalah perkataan mereka tadi, hantu. hantu. hantu
Terbawa dengan suasana, sambil menutup kuping. Berteriak “MAMAAAAK… MAAAK MAAAKKK”
Seolah berhasil menakut-nakutin gue, tika dan abangnya pun kabur.
Haaa huuu haaa desah nafas gue. Sebelum membuka pagar,
Lagi-lagi “AZAB” menghampiri kali ini berkolaborasi dengan abangnya. Tika dan faisal,
Matilah gue #mirisss
Ggik!
Pasti lo lari-lari ya karena ketakutan? Hahahaha
Iya, tapi gue bukan karena takut. Gue hanya latihan lari, karena di sekolah gue ada lomba lari besok #ngeles (padahal penakut).
Tapi karena tika dan abangnya sudah tau kalau gue penakut, mereka mulai melancarkan usahanya untuk menakut-nakutin gue.
Ggik. Itu di rumah lo, di pohon itu #sambil nunjuk, ‘itu ada kuntilanak kikikikikik seperti itu tertawanya’.
Ucap tika.
Dan itu ggik! ‘Di gerasi rumah lo, ada gundoruwo’ sambut abangnya.
Badannya tinggi, besar, rambutnya gondrong, betanduk dan bergigi merah.
Terlintas di benak gue betapa menyeramkan mereka, ketakutan gue mulai medak-ledak. Gue bayangin seandainya gue berjalan pulang ke rumah, terus di kejutin sama gundoruwo berbadan besar, berambut gondrong, bertanduk dan begigi merah.
Apa reaksi gue?
Mungkin gue uda keciprit-ciprit sampai terkencing di celana, berlari-lari seperti kucing yang sedang kesurupan. Matilah gue. Ngerang-ngerang sambil gigitin besi pagar rumah #miriss
Terbayang-bayang, terngiang-ngiang apa yang diucapkan oleh tika dan abangnya,
Sangkingkan gue takutnya, satu-satunya suara yang gue dengar dengan jelas adalah perkataan mereka tadi, hantu. hantu. hantu
Terbawa dengan suasana, sambil menutup kuping. Berteriak “MAMAAAAK… MAAAK MAAAKKK”
Seolah berhasil menakut-nakutin gue, tika dan abangnya pun kabur.
Dan datanglah Wonder Women yaitu emak gue. Alhamdulillah ya onglo, akhirnya doa orang teraniaya dan tertindas ini di jabah. Terjawablah semua ketakutan gue. Emak segera menjemput gue yang lagi mati kedinginan karena ketakutan.
Kenapa ogi?
Takut ma banyak hantu,
Ngapain takut sama hantu. Hantu juga dulu makannya nasi, emang ogi makannya apa?
Nasi juga lah ma, masak beling emang kuda lumping.. Ucap gue sambil nyengirrrr
Sambil rangkul tangan mama, berjalan berdua
Owh, ternyata hantu makannya nasi ya. #catet
Kenapa ogi?
Takut ma banyak hantu,
Ngapain takut sama hantu. Hantu juga dulu makannya nasi, emang ogi makannya apa?
Nasi juga lah ma, masak beling emang kuda lumping.. Ucap gue sambil nyengirrrr
Sambil rangkul tangan mama, berjalan berdua
Owh, ternyata hantu makannya nasi ya. #catet
Inilah namanya kedamaian. Sejak ini gue sudah berani pergi dan pulang ke rumah sendiri.
Legaaanya, mama memang wonder women
Legaaanya, mama memang wonder women
Cerpen Karangan: Deddi Prayogi
Facebook: Deddi Prayogie
Facebook: Deddi Prayogie
sumber: via cerpenmu
Tag :
cerita lucu,
Dilarang Masuk
By : Unknown
Maria telah beberapa hari terbaring di tempat tidur rumah sakit. Setelah kecelakaan bermotor yang di alaminya dengan Doni , lelaki yang sangat dicintainya. Dia begitu tenang, fikir Sisca adiknya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh datangnya Andika Suroso, dokter bedah syaraf yang menangani kasus Maria. Dokter itu menasihati sisca agar dapat memberi semangat pada Maria dengan terus mengajak Mari mengobrol seolah-olah Maria dapat menjawabnya.
Setelah 3 hari mencoba hal yang disarankan dokter, tiba-tiba terdengar suara dari mulut Maria, Sisca langsung memanggil dokter dan orangtua nya,yaitu pak dan bu suryanto. Semua yang ada diruangan itu terharu bercampur bahagia. Setelah sadar dari koma,Sisca adiknya Maria membawakan sesuatu untuk Maria. Ternyata perhiasan, alat-alat dandan, dan baju karena Doni pacarnya Maria akan membesuk Maria . langsung Sisca mendandani kakaknyasehingga tampak cantik. Doni pun datng ke kamar inapnya Maria. Tidak lama mereka mngobrol karena mari merasa capek. Doni pulang dan Sisca hanya mengantar Doni sampai lift saya , Doni merasa Maria tampak bosan padanya tetapi Sisca meyakinkan Doni bahwa Maria tidak bosan padanya. Dr. Andika masuk ke kamar untuk memeriksa Maria. Sisca mengintip dari sisi pintu kamar tampaknya Maria tidak terlihat capek. Sepertinya Maria sedang mencoba memikat dokter itu, piker Sisca di dalam hatinya.
Dua minggu kemudian, Maria diizinkan pulang dengan syarat harus beristirahat di rumah paling tidak 2 minggu , Sisca merayakan kepulangan Maria. Maria sangat merasa bosan setelah 5 hari hanya hanya di rumh. Setelah kecelakaan itu , Maria sangat berubah menjadi lebih mementingkan main daripada tugas dan sangat memperhatikan penampilan. Ketika Doni dating menjenguk Maria , Maria menolak untuk bertemu dengan Doni. Setelah Doni pulang Sisca langsung mempersiapkan makan malam untuk mereka. Pagi itu hari pertama Maria kembali kesekolah , Maria sangat merasa percaya diri. Setelah sampai disekolah , dina ramana berlari menyambut sahabatnya , Maria yang sudah beberapa minggjabsen dari sekolah , Maria hanya diam dan melanjutkan langkahnya ke ruang kelasnya. Hampir semua guru dan murid di SMU Pelita Surabaya merasa ada yang beda pada Maria Pada sore harinya Sisca dan Maria diizinkan mengadakan pesta di rumah mereka oleh orang tua mereka. Pada saat pesta itu berlangsung Maria menggantikan Sisca sebagai ratu pesta. Semua mata tertuju pada Maria . sebaliknya , Sisca terus melayani tamu sepanjang pesta sore itu. Pembicaraan dimeja makan malam itu sangat ringan. Bu Suryanto hanya menanyai tentang sekolah kedua anak gadisnya. “keluarga Parmanto akan ke Eropa beberapa minggu dan mereka akan menitipkan kedua anak kembarnya yaitu sela dan seli yang merumur 10 tahun di rumah kita.”kata Pak Suryanto. Awalnya , Maria sedikit keberatan , tapi setelah mendapat penjelasan dari Sisca , Maria tidak keberatan jika si kembar tinggal sementara dengan mereka. Setelah menjemput sikembar , Pak dan Bu Suryanto pergi keluar. Malam itu Sisca punya acara bersama Danny , awalnya Maria mengizinkan Sisca untuk pergi. Tapi ketika Sisca sedang berdandan , Maria pergi keluar rumah tanpa pamit dengan Sisca. Setelah Sisca tahu bahwa sekarang hanya ada diadan si kembar yang ada di rumah , ia binggung harus mengajak atau meninggalkan sikembar di rumah berdua. Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berdering. Ternyata Danny, Sisca langsung melemparkan senyuman mautnya, Danny langsung membalas senyuman itu, Danny lalu melangkahkan kakinya ke keruang tamu. Danny terkejut ketika melihat ada sela dan seli di ruang tersebut. Sisca langsung memberi penjelasan agar sikembar dapat ikut ke bioskop bersama mereka. Awalnya Danny menolak, setelah di rayu oleh Sisca , akhirnya Danny pun mengizinkan sikembar ikut mereka.
Setelah pulang dari bioskop, Sisca sangat kesal karena saat ia sedang mononton bioskop , sikembar tidak berhenti ngoceh dan terus makan, sehingga Sisca dan Danny tidak semat lagi ngobrol. Tidak tahan menyimpan rasa kesal dihatinya, Sisca menceritakan semuanya pada orang tuanya sambil mengangis. Orang tua Sisca sangat bangga dengan sikap tanggung jawab Sisca. Ketika Sisca akan masuk ke kamarnya , terdengar suara tangis tertahan Maria. Ketika Sisca masuk kekamar Maria langsung memeluk Sisca. Ternyatamaria menangis Karena ia baru saja mendapatkan mimpi seram.”mimpi seramkab enggak akan terus-terusan, Maria.” Sisca menenangkan.
Sekarang Sikap Maria terhadap dina ramana sangat berbeda , sekarang Maria sangat sombong terhadap Dina , sebaliknya Sisca sekarang bersikap baik terhadap Dina. Maria jadi sering menggoda cowok-cowok di SMU tersebut , termasuk Hendra Wirawan yang sudah mempunya pacar yaitu Susan. Sikap Maria terhadap Doni sangat dingin. Saat sedang mengobrol dengan Doni pun, Maria selalu memalingkan muka , dan kelihatan terburu-buru. Tiba-tiba Sisca dioanggil oleh Bu Sylviana , guru pembimbing. Bu Sylviana memanggil Maria karena Maria sama sekali melum mengumpulkan tugasnya. Maria beralasan karena sakit kepala(pusing). Setelah keluar dari ruang BP , willy bertemu dengan Maria , Maria mencoba merayu Wily agar Willy dapat membantunya mengerjakan tugasnya. Sebagai teman yang baik , akhirnya Willy mau membantu Maria.
Doni berlatih basket dengan keadaan lesu. Empat kali bidikannya ke keranjang gawang gagal.tak ada yang tau ke gelisahan Doni sampai saatnya pertandingan melawan tim SMU Kusuma Bangsa. Doni tak mampu memasukkan satu pun tembakan jitunya ke keranjang gawang, malah dia harus di keluarkan wasit dari lapangan. Pak Hery , pelatih tim SMU Pelita merasa adayang aneh pada Doni. Ternyata Doni sedang memikirkan masaah tentang Maria. Setelah mendengar pendapat Pak Hery tentang Maria , Doni menjadi prihatin sekaligus lega. Doni menyesali kebodohannya karena menyerah begitu saja atas penolakan Maria. Sisca sangat binggung, Maria yang dulu sangat baik , bertanggung jawab , tapi sekarang sudah berubah total. Tiba-tiba Seila memanggil Sisca dan memperingatkan agar Maria tidak mendekati Tomy. Pak Herman pun sangat kecewa dengan sikap Maria akhir-akhir ini.
Sisca merasa dia yang harus menyadarkan Maria kembali. Setelah pelajaran selesai , ia langsung meminta saran dari Pak Herman , tapi ia belum mendapat jalan keluar yang pasti. Setelah ia pulang ke rumah telihat Doni dengan wajah murung di depan rumahnya. Mereka berusaha mencari jalan keluar. Tiba-tiba pembicaraan mereka terpotong oleh suara motor yang dikendarai Maria berboncengan dengan Mikel. Sisca sangat marah pda Maria, karena Maria akan pergi kepantai bersama Mikel. Padahal Maria sedang diberi ukuman oleh orang tuanya. Tanpa mendengar kata-kata dari Sisca, Maria langsung pergi kepantai dengan Mikel. Doni pun langsung menyusulny dan memaksa Maria naik ke mobilnya. Diperjalanan pulang Doni berusaha menasihati tapi Maria sama sekali tidak mengubrisnya. Ketika sampai di rumah Sisca dan Maria. Maria langsung berlari ke kamarnya, dan Sisca dan Doni kembali mencari jalan keluar masalah ini. Mereka berniat menemui Psikolog.
Pagi itu Sela dan Seli mencoba membangunkan Sisca.mereka ingin minta tolong diantar ke uji pentas flute. Awalnya Sisca menolak tapi setelah membaca pesan dari mamanya, dengan terpaksa dia harus mengantar si kembar. Pentas flute tersebut berlangsung cukup lama, sekitar lebih dari 5 jam. Padahal Sisca ada janji dengan Danny bertemu di pantai. Setelh uji pentas flute itu selesai, Sisca langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sayangnya , ketika ia sampai di pantai, ia melihat Danny sedang merangkul seorang gadis cantik. Seketika Sisca sangat sakit hati.
Pada malam itu, Esa Ferina akan mengadakan pesta yang bertema “Pesta Jodoh”. Pada awalnya ibu Sisca dan Maria tidak mengizinkan Sisca dan Maria dating ke pesta itu , tapi setelah di rayu mereka pun diizinkan dating ke pesta itu. Di pesta itu Maria sangat genit ia berputar-putar sehingga ia jatuh di pelukkan Doni , tapi Maria menanggapnya dengan dingin , laluia kembali berputar-putar dan kembali jatuh pada pelukan Billy, Maria berusaha menggoda Billy. Dari jauh , Sisca selalu mengawasi Maria. Billy yang dari dulu suka dengan Maria sangat menikmati suasana saat itu. Billy mengajak Maria untuk pergi ke klub milik ayahnya Billy. Setelah sampai di klub tersebut tiba-tiba pintu dibagian kemudi terbuka , dan Billy merasakan sebuah tinju menimpa rahangnya. Maria mulai pusing setelah minum anggur yang diberikan Billy tadi. Lalu Doni pun langsung memondong Maria ke mobilnya. Setelah Maria sedikit sadar bahwa sekarang ia tidak bersama Billy lagi melainkan Doni , ia mengatakan bahwa Doni benar-benar perusak sesaat sebelum ia jatuh pingsan.
Sabtu malam itu ternyata Brian ada janji bersama Maria.Ternyata Maria melupakan janji bersama Brian,ia telah pergi ke rumah Billy.Maria sedang bersenang-senang di rumah Billy.Billy mencoba menggoda Maria lebih dalam sampai tertuju di kamar tidur utama.Billy hendak mengambil botol anggur,sambil menunggu Billy di kamar yang gelap itu,Maria hendak berdandan dan tiba-tiba kakinya tersandung,dan kepalanya terbentur meja kayu yang sangat tebal.Seketika ia merasa kebingungan.Di sisi lain,Sisca masih sedang mengobrol dengan Brian,Sisca memang punya rasa suka pada Brian.Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di pantai.Di saat itu juga Brian mengungkapkan rasa cintanya pada Sisca.Sementara itu,Maria terus mencari pintu keluar dari ruangan yang baru ia lihat itu,tidak sengaja ia menekan tombol menghidupkan lampu di ruangan itu.Terlihat Billy masuk ke ruangan itu,Maria langsung panik dan berlari keluar rumah pantai itu.Ia langsung menuju klub pantai yang berkilauan di depannya.Bertemulah matanya dengan Doni.Maria langsung memeluk erat tubuh Doni.Maria menceritakan kebingungannya saat itu pada Doni.Doni telah menyadari bahwa Maria telah berubah menjadi.Maria yang dulu.Doni menyangka Maria bersama Brian,ternyata yang bersama Brian itu adalah Sisca.Maria khawatir akan terjadi masalah pada Brian dan Sisca,tapi kekhawatiran itu langsung dihilangkan oleh Doni.Diraihnya tangan Maria dan digenggamnya.Maria dibanjiri rasa cinta yang amat dalam kepada Doni,begitu pula sebaliknya.Doni memeluk Maria dengan penuh kehangatan.
Tag :
cerita horror,


