Popular Post

Tampilkan postingan dengan label cerita lucu. Tampilkan semua postingan

samun punya cerita

By : Unknown
Di balik matahari yang mulai mengantuk, di sela-sela jari kaki Gunung Semeru; yang mereka sebut sebagai negeri di atas awan walaupun masih (selalu) di bawah sekotak misteri-Nya.
Seorang pemuda kencing di balik semak.
Pesing tak kentara, baunya tercium sampai Ranu Kumbolo. Surga pun tercemar karena bau pesing itu. Sembari mengutuk dinginnya angin yang baru saja menemaninya pulang turun dari puncak gunung, pemuda itu berbalik dengan selangk*ngan yang masih hina.
Seorang Bapak berumur 40-an menghampirinya; padahal si pemuda belum selesai menarik resleting celana PDL kotornya.
Bajunya coklat kumal tak karuan. Mungkin terbuat dari kulit binatang hewan yang hidup di sekitar sini, pikir si pemuda. Ada sedikit bercak darah kering di lengan baju Bapak itu.
“Dik, lain kali jangan kencing di sini.” Tangan Bapak itu kasar, mungkin karena harus melawan kerasnya alam Semeru; paku Pulau Jawa. Atau mungkin hanya karena terlalu lama memegang kapak untuk mencari kayu bakar untuk makan malam atau untuk sekedar bersenang-senang belaka.
“Ah… oh… i…iya… Pak. Maaf, maaf…” buru-buru pemuda itu menarik resletingnya sampai jari telunjuknya hampir terjepit.
“Nanti yang nungguin marah.”
Pemuda itu agak bergidik mendengar kata ‘nungguin’ walaupun dia tak percaya dengan takhayul.
“Waduh, iya, Pak. Saya nggak akan kencing di sini lagi.”
“Iya, jangan lagi.” Bapak itu menepuk pundak si pemuda dengan ramah. Larunglah niat si pemuda untuk segera kabur dari sana.
Dari teguran halus Si Bapak, datanglah pembicaraan sederhana di sebelah semak tadi: di atas kayu rontok yang sepertinya sudah lama terbaring di sana. Sepuntung Rok*k Gudang Garam Filter menemani bibir kering si pemuda. Asapnya menjadi orang ketiga dari obrolan mereka.
“Bapak mau rok*k?”
“Saya udah lama nggak ngerok*k. Saya udah janji ke istri saya”
“Kalau Bapak punya anak di sini?”
“Punya, tapi sudah meninggal.”
“Wah, maaf, Pak.”
“Sudah, tak apa. Sudah lama sekali lagipula.”
“Kalau istri, Pak?”
“Meninggal bersama kedua anak saya.”
Merasa tak nyaman membicarakan orang yang sudah tidak ada, si pemuda mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang sedang hangat
Wanita, Indonesia, hingga Gayus Tambunan menyangkut dalam satu setengah jam yang tak terasa. Hingga akhirnya si pemuda merasa sudah terlalu senja. Dia harus bertemu temannya di pos awal untuk mengejar kereta.
“Pak, maaf, saya harus ke teman-teman saya. Mereka udah nunggu di bawah.”
“Oh, silahkan, silahkan.”
Si pemuda mengambil ransel-delapan-kiogramnya dan bersiap untuk kembali berangkat. Kembali, merasa tidak enak jika pergi tanpa memberi sebuah ‘pertanyaan penutup’, si pemuda memberi pertanyaan terakhir.
“Oh iya, Pak, maaf, kalau rumah Bapak di mana?”
“Di sana.” Bapak itu menunjuk semak-semak tempat si pemuda kencing tadi.
Cerpen Karangan: Finlan Adhitya Aldan
Blog: Finlanadhitya.blogspot.com
sumber : via cerpenmu
Tag : ,

amnesia

By : Unknown
Kalau ditanya apa keinginanku saat ini, pasti dengan yakin bakal kujawab pengen banget amnesia. Kaya’nya seru juga. Nggak tahu, terlalu banyak yang dipikirin, terlalu banyak masalah buat aku ngerasa agak nggak waras.
Handphoneku bergetar pelan, aku melirik ke layarnya sekilas. Vino.
“Halo,” Sahutku.
“Sayang, lagi ngapain?” Aku mencibir dalam hati, pasti ada maunya.
“Lagi kerja lah. Ada apa?” Tanyaku.
“Malam ini aku nggak bisa ikut acara selamatan adikmu ya. Disuruh bos ke luar kota, ada urusan penting,”
Nah benar kan dugaanku. Selalu aja kaya’ gitu. Sampai-sampai aku sudah hafal dengan kelakuannya. Yang ada dipikirannya cuma kerja, kerja dan kerja.
Vino selalu menomorduakan aku dalam hal apa aja. Kerjaan, keluarga, temannya, pokoknya semuanya. Anehnya, sampai hari ini aku masih bisa bertahan.
Dulu, aku memang sering ngambek. Tapi lama-lama jadi kebal juga. Jadi sekarang, aku nggak perduli lagi Vino mau ngapain, mau kemana, dll. Mungkin seharusnya aku cari selingkuhan aja.
“Ya sudah nggak apa-apa. Hati–hati aja ya,” Sahutku dingin.
Jadi ingat acara nanti malam. Acara selamatan adikku Rea yang baru menyelesaikan S2 nya sekaligus acara tunangan dengan pacarnya. Seharusnya aku iri dengan acara ini. Tapi berharap Vino memikirkan soal kelanjutan hubunganku sama dia, sama aja kaya’ menunggu matahari jadi dua. Nggak mungkin!
Harapanku cuma satu, mama nggak bandingin aku dan Rea. Wajar aja beda, Rea punya pacar yang kelakuannya manis banget sampai kadang aku jadi eneg atau lebih tepatnya iri. Sedangkan aku cuma punya Vino yang syukur-syukur masih ingat hari ulang tahunku.
Sudah jam dua belas siang, waktunya makan siang. Dulu waktu awal jadian, Vino selalu menjemputku buat makan siang. Sekarang, mimpi kali.
“Sya, mau makan apa?” Teriak Windi dari mejanya.
“Pengen nyobain rumah makan Sunda yang baru tuh,” Sahutku.
“Yang dekat lampu merah?” Aku mengganguk mengiyakan.
Aku beranjak dari kursiku. Banyak kabel berserakan di lantai. Kok nggak diberesin sih, runtukku dalam hati.
Tiba-tiba kaki kananku tersangkut salah satu kabel. Aku mengangkat kakiku dan berusaha melepaskan kabel yang tersangkut. Baru aja kaki kananku terlepas dari kabel, gantian kaki kiriku yang tersangkut. Dan nggak tahu kenapa, aku kehilangan keseimbangan.
Sekelilingku jadi gelap.
Kepalaku pusing. Aku membuka mataku perlahan. Silau, kupejamkan lagi mataku. Nggak lama terdengar suara ribut-ribut. Berisik, nggak tahu apa kepalaku sakit banget.
“Sya, kamu nggak apa-apa?!” Seorang ibu bermake up menor memegang tanganku erat.
“Mbak, apanya yang terasa sakit?” Kali ini seorang cewek berwajah imut mengelus-elus tanganku.
Aku melihat sekelilingku. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa aku dikerumuni banyak orang?
Duuuh, tiba-tiba kepalaku terasa nyeri. Aku memegang kepalaku. Apa ini? Kenapa kepalaku diperban segala?
“Jangan dipegang dulu, nak. Nanti jahitannya kebuka,” Aku menatap ibu bermake up menor tadi dengan muka bingung. Siapa orang-orang ini?
“Sya…!” Kali ini seorang cowok dengan dandanan eksekutif muda menyeruak dari kerumunan orang. Nafasnya terengah-engah. Sebelumnya dia mencium tangan ibu bermake menor.
“Syukurlah kamu sudah sadar,” Cowok itu langsung memelukku. Kontan langsung kudorong dia menjauhiku.
“Kamu siapa?” Tanyaku bingung. Semua yang ada disitu langsung terdiam. Aku menatap mereka satu persatu, kenapa nggak ada seorangpun yang aku kenal?
“Sya, ini aku! Vino, pacar kamu!”
Nampaknya cowok tadi belum menyerah juga. Tadi dia bilang apa? Pacar?! Sejak kapan aku suka tipe cowok kaya’ dia. Cakep sih, tapi mukanya nyebelin banget!
“Sya, ini Vino, pacar kamu. Masa kamu lupa,” Ibu bermake up menor menimpali.
“Sebenarnya kalian siapa?” Tanyaku. Ibu bermake menor langsung menangis. Seketika sekelilingku langsung gaduh, kepalaku jadi pusing lagi. Mendingan aku tidur aja.
Nampaknya tidurku lumayan lama. Waktu aku bangun, sekelilingku sudah sepi. Yang ada di depanku cuma cewek berwajah imut sedang membaca buku. Aku mencoba membaca judul bukunya, tapi nggak berhasil, pandanganku terasa kabur. Aku berdehem pelan.
“Mbak…” Buru-buru dia menyimpan bukunya.
“Minum ya, mbak,” Katanya sambil menyodorkan gelas berisi minuman kepadaku. Aku meneguknya sedikit.
“Mbak lupa sama aku juga?” Tanyanya sambil menatapku. Aku mengganguk.
“Aku Rea, adik mbak,” Sahutnya. Aku tersenyum.
“Cowok tadi yang ngaku pacarku, siapa dia?” Tanyaku penasaran.
“Itu mas Vino, pacar mbak. Ibu tadi tuh mama kita,” Jelas Rea. Aku melongo. Pacarku?!
“Trus, aku kenapa ada disini?”
“Tadi mbak jatuh di kantor. Kepala mbak kebentur lantai, terus kening mbak juga robek, makanya diperban kaya gini. Kata dokter, mbak kena amnesia ringan,” Jelasnya lagi.
Aku terdiam dan berusaha mengingat. Tapi kepalaku malah tambah sakit.
“Sudah, mbak istirahat aja. Aku keluar sebentar ya, mbak. Mau manggil mama dulu. Pokoknya jangan mikirin apa-apa, istirahat aja,” Aku mengganguk sambil tersenyum. Eh… ibu make up menor tadi mamaku?
Aku bangkit dari tempat tidurku. Bosan juga dari tadi tiduran terus. Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Uhhhhhh, cowok yang tadi lagi.
“Ada apa?” Tanyaku cuek. Nggak tahu kenapa aku sebel banget melihat mukanya.
“Sudah baikan?” Tanyanya sambil menghampiriku. Kontan aku langsung mundur, takut dia macam-macam lagi.
“Kamu sama sekali nggak ingat aku?” Tanyanya dengan muka memelas. Aku menggeleng dengan yakin.
Dia kemudian sibuk dengan handphonenya. Lalu tiba-tiba dengan muka bersemangat menunjukkan handphonenya kepadaku.
“Ingat nggak sama foto ini,” Aku memicingkan mataku. Foto apaan, nggak jelas.
“Ini kamu, ingat nggak?” Iya juga, memang ada aku di foto itu dan… cowok itu! Kapan aku foto bareng sama dia?
“Terus kenapa?” Tanyaku.
“Percaya kan kalau kita ini memang pacaran,”
“Nggak lah! Mungkin aja kamu ngefans banget sama aku, makanya ada foto kita berdua. Sudah ah, kamu pergi sana. Kepalaku pusing lagi, aku mau tidur dulu,” Usirku.
Aku mendorong cowok itu ke luar kamarku. Menyebalkan lama-lama ngobrol sama dia.
“Sya, aku mohon kasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku memang pacarmu,” Dia masih aja terus memohon.
“Eh… dengar ya! Aku nggak ngerasa jadi pacar kamu, terus aku juga nggak pengen jadi pacar kamu. Jadi stop ngomong hal yang aku nggak ngerti!” Duuuh, kepalaku pusing lagi. Sial, nampaknya cowok ini harus kuusir jauh-jauh biar penyakitku nggak kumat terus.
“Kalian kenapa?!” Ibu bermake up menor eh… mamaku sama Rea tiba-tiba muncul.
“Mas Vino gimana sih, kan tadi aku udah bilang jangan ngomong yang nggak-nggak ke mbak Sya,” Marah Rea ke cowok itu. Huuh, rasain!
“Maaf, Re,” Bisik cowok itu pelan.
“Mama bawakan nasi uduk kesukaanmu. Dimakan ya,” Aku menuju tempat tidur dan kembali berbaring. Ibu itu eh… mama menyuapiku.
Cowok yang dipanggil Rea dengan sebutan mas Vino itu masih sibuk kasak kasuk dengan Rea, nggak tahu apa yang mereka diskusikan. Aku nggak perduli.
“Ma, aku benaran pacaran sama cowok itu ya?” Bisikku perlahan.
“Iya, memangnya kenapa?” Tanya mama masih sambil menyuapiku.
“Kalau gitu mama bilang sama dia, aku mau putus aja,” Mama berhenti menyuapiku.
“Kenapa, nak?” Tanya mama dengan muka serius.
“Nggak mau sama dia, orangnya nyebelin,” Sahutku. Lama mama menatapku.
“Sebenarnya mama nggak boleh ceritain ini. Ini rahasia. Tapi gimana lagi. Sebenarnya malam ini Vino mau melamar kamu, tapi batal gara-gara kajadian ini. Jadi mama mohon, kamu jangan ngomong yang nggak-nggak dulu ya sampai kamu ngerasa baikan,” Kata mama pelan. Duuuh, dilamar sama cowok kaya’ dia? Jangan sampai deh!
Aduh! Kepalaku sakit lagi. Aku menjerit tertahan. Mama nampak panik, Rea dan Vino bergegas menghampiriku. Sekelilingku nampak kabur.
Rasanya aku baru bangun dari tidur panjang. Kepalaku terasa berat. Barusan aku seperti mimpi aneh.
“Ini dimana, ma?” Tanyaku perlahan.
“Di rumah sakit. Sudah istirahat aja lagi,” Mama mengelus rambutku. Aku mengedarkan pandanganku. Ada Rea, adikku. Kok ada Vino juga? Katanya malam ini dia mau ke luar kota. Terus acara selamatannya Rea gimana?
“Ma, acara Rea gimana?” Tanyaku panik.
“Jangan dipikirin, acaranya masih bisa diundur kok,” Sahut mama sambil tersenyum. Di belakang mama, Rea dan Vino nampak kasak kusuk. Pandanganku beralih ke Vino. Nggak tahu kenapa dia nampak takut-takut melihatku. Sebenarnya ada apa?
“Katanya mau ke luar kota? Nggak jadi ya?” Tanyaku ke Vino. Lama Vino terdiam. Dia dan Rea saling pandang.
“Nggak jadi, Sya. Diundur sampai kamu sembuh,” Vino kemudian menghampiriku dan mengelus pipiku. Tumben dia jadi perhatian.
“Tadi aku mimpi, masa mama bilang kalau kamu mau ngelamar aku. Aneh banget mimpinya,” Kataku ke Vino. Raut muka Vino langsung berubah, sedang mama dan Rea saling pandang.
Aku menatap mereka satu persatu. Apa aku salah ngomong???
END
Cerpen Karangan: Eva Kurniasari
Blog: vadeliciouslife.blogspot.com
sumber : via cerpenmu
Tag : ,

sajadah terbang

By : Unknown
“Anisa bangun” ibu membangunkan Anisa yang sedang tidur.
“shalat subuh dulu nak,” kata ibu.
“Iya bu,” Anisa bangun dan langsung beranjak ke kamar mandi untuk wudhu dan segera shalat subuh.
“hooaamm” Anisa menguap selesai shalat.
“aku ngantuk banget, aku tiduran sebentar ah” gumam Anisa yang masih lengkap memakai mukena mulai berbaring di atas sajadah. Dan beberapa saat kemudian dia tertidur.
Matanya terbuka. Terasa angin yang begitu kencang.
Matanya melihat ke bawah dan menemukan selembar sajadah didudukinya terbang di udara.
“ini kan sajadahku. Apa sajadahku ini ajaib. Woww..” gumamnya polos.
“aku mau jalan-jalan ahh” katanya dalam hati sambil senyum bahagia.
“sajadah ayo kita jalan-jalan” Anisa teriak bahagia.
Anisa dan sajadahnya pun terbang dengan penuh semangat.
“wow.. indahnya…” gumam Anisa.
“Anisa.. Anisa..” seseorang memanggilnya dari bawah.
“wah.. itu ibu. ibu.. ibu.. Anisa terbang” Anisa memanggil ibunya sambil melambaikan tangan penuh kebahagiaan.
“Anisa.. Anisa.. bangun sudah siang, kok tidur di sajadah sih” ibu membanggunkan.
Mata Anisa pun terbuka dan ternyata Anisa hanya bermimpi.
THE END
Cerpen Karangan: Nurhikmah Hakiki
Facebook: Nurhikmahhakiki[-at-]yahoo.com
sumber : via cerpenmu
Tag : ,

bukan lelaki pecundang

By : Unknown

Pecundang… pecundang… pecundang, berkali-kali kata-kata itu teriang-iang di telingaku, entah dari mana asalnya, melintas saja bak kereta api listrik yang membelah pulau jawa. Aku terduduk disebuah pantai, sendirian, sembari kata-kata itu tak henti-hentinya membahana di relung jiwaku, sempat ku bertanya kepada couple seusiaku yang kebetulan melintas di depan tempatku duduk.
“Mas, mbak, ada dengar yang bilang pecundang, pecundang ngak?” tanyaku ke mereka berdua.
Mereka berdua hanya geleng-geleng kepala dengan ekspresi wajah keheranan, lalu pergi meninggalkanku sendiri. Setelah tak beberapa jauh dariku mereka berdua tertawa terbahak-bahak, sambil berangkulan mesra bak seorang pengantin baru, samar-samar memang terdengar suara cibiran.
“Dasar sinting ya sayang… hahahaha” ucar lelaki tersebut, disambut cekikikan geli bak kuntilanak suara gadis pacarnya.
Aku berang juga, kuambil ranting kayu yang tergeletak di sampingku, dengan segenap kekuatan kulempar couple kurang ajar tadi,
“Woooyyy, sini kamu, kenapa lempar-lempar” tiba-tiba lelaki tersebut berbalik dan mengejarku, langkah cepatnya membuatku tersentak, beruntung motor bebek merahku terpakir siaga di pinggir jalan, dengan sigap aku langsung kabur dari lelaki sok pahlawan yang ingin minta puji dengan pacarnya tersebut. Sejenak ku menoleh ke belakang kulihat dia berteriak-teriak kencang, sedangkan sang pacar terlihat bengong melihat pacarnya yang seperti orang sinting yang tak kalah dengan orang sinting yang barusan mereka bicarakan.
“TIIINNN…”
Aku kaget dengan suara klakson panjang sebuah mobil yang berada di depanku, hampir saja aku tertabrak mobil gara-gara keasikan melihat lelaki tadi.
“Wooyyy… kalau jalan itu lihat-lihat!!!” ujar pengemudi mobil tadi berang, aku hanya membalasnya dengan senyum-senyum masem, ditambah bonus nyengir kuda yang khusus kuberikan ke pengemudi tadi, yah mungkin sebagai pengganti permintaan maaf.
“Arghhh… sial benar aku hari ini…” gumamku keras…
Rencana mau refreshing menenangkan otak malah jadi begini, pagi tadi aku baru saja mendapat berita, seorang gadis yang kutaksir, si mia baru saja jadian dengan cowok gagah ganteng bermotor besar bernama anggi, dan parahnya lagi, mereka jadian tepat sehari setelah mia menolakku,
“hiks… kejam sekali kau mia” gumamku yang langsung disambut dengan dengung suara hatiku yang bekata “lebayyy…”.
Jomblo… jomblo… jomblo… lagi-lagi suara aneh membahana di telingaku, kali ini dengan kosa kata yang berbeda, JOMBLO. Yah, itu yang diteriakkan oleh suara yang berulang kali aku dengar barusan. Dan kebetulan lagi-lagi ada couple yang sedang berboncengan mesra di sampingku, berpelukan dengan motor besar yang menjengkelkanku.
“Woouuuy… kenapa bilang-bilang jomblo sama aku..” ujarku keras kemereka berdua
Mendengar hal tersebut, keduanya saling bertatapan satu sama laiinya, dengan lagi-lagi wajah yang keheranan, heran ada orang sinting yang berteriak kepada mereka. Lalu dengan sedikit menaikkan gigi motor, dan menggasnya dengan kencang, lelaki tersebut dengan motor besar dengan mudahnya meninggalkan aku jauh dengan si bebek yang sudah berusia uzur ini.
Karena tak jelas arah dan tujuan, aku akhirnya menuju sebuah warnet kecil yang berada di pinggir jalan, aku masuki salah satu bilik, membuka Facebook untuk sekedar mengecek status dan pemberitahuan terbaru, siapa tahu pdkt aku beberapa hari yang lalu sukses besar. Yah, sebuah pdkt yang kulakukan ke beberapa gadis dengan mengirimi mereka dengan pesan-pesan yang bersahabat, atau bisa dibilang sok akrab.
“What…the…” aku tersentak melihat profil facebookku, tak ada tanda-tanda merah di sudut kiri atasnya, tak ada pemberitahuan?, satupun?.
Aku coba cek sebuah status yang kubuat tadi pagi yang tentunya sangat puitis dan bermakna dalam, dengan harapan banyak yang nglike.. tapi ternyata.
“What… the…” lagi-lagi bahasa inggris tersebut terlontar dari mulut bauku, mungkin… karena seharian ini aku belum gosok gigi. Dan ternyata memang kejadian, tak ada yang menlike statusku, memang ada dua yang men-like aku cek dan ternyata itu aku sendiri dan sebuah akun palsu yang aku buat, ironi sekali.
“Huaaaaaa…” aku teriak sekencang-kecangnya diwarnet tersebut, tapi heran juga, tak ada yang menegorku. Oh iya, aku teriak dalam hati barusan.
Aku lihat beranda sore itu, seperti biasa couple alay memasang foto-foto mesra mereka. Segera saja aku klik “berhenti berlangganan” status tersebut, bagaimana tidak, hatiku perih boy melihat itu, kesal, iri, sedih, kasihan? kasihan terhadap diriku sendiri tentunya. Yang bercampur aduk kedalam hati yang mulai layu tanpa harapan ini
Sebuah lagi status yang bikin aku muak sore itu, seorang pemuda yang memajang kesuksesannya dalam sebuah kejuaraan. Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku sudah berusaha sebaik-baiknya membuat 10 alternatif cerita yang kukirim ke 10 lomba cerpen, yang salah satunya berisi cerpen pelampiasanku ke Mia, tentang cerita perjuangan cintaku yang bertepuk sebelah tangan ke gadis itu, dan hasilnya nihil. Bahkan masuk sepuluh besarpun aku tak mampu, padahal aku sudah bercerita dengan teman sesama penghayalku akan berangkat ke singapura dari hadiah salah satu lomba cerpen tersebut, namun ternyata gatot… gatot… gatot.. gagal total, heran juga lagi-lagi kata kata dengan kosa kata yang sama teriang-iang ditelingaku, seperti mengejek dengan kerasnya.
Tak sampai disitu, setelah menulis status pelampiasan, aku ikuti lomba design cover, siapa tahu ini adalah takdirku, sebagai designer cover kawakan. Aku ikuti beberapa lomba yang tertera di beberapa halaman website, meski beberapa sudah expired, aku tetap mencoba dan ternyata, selamat…!!! anda gagal… gagal.. gagal…, masuk nominasi 20 besarpun tidak, memang benar-benar what the…
Ternyata, rencanaku menenangkan pikiran di warnet lagi-lagi rusak gara-gara hal tersebut, bukannya refresh melihat photo profile ciamik penghuni facebook, malah megorek luka lama kegagalanku.
Aku berjalan dengan lunglai ke arah pintu keluar warnet, badanku lemas, tak bersemangat, tak berdaya dan lima L, letih, lemah, lunglai, loyo dan lesu… seluruhnya bercampur aduk di dalam diriku, aku duduki motor bebekku, namun aku terkejut, sebuah suara merdu nan ayu memanggilku dari belakang
“Mas…mas…” ujar suara tersebut, aku menoleh ke belakang, kali ini suara tersebut teriang-iang di telingaku, sebuah suara yang sama, kuyakinkan lagi pendengaranku, apakah itu hanya suara hatiku lagi seperti yang tadi.
“Mas..mas…” ternyata benar bukan, itu datangnya dari seorang gadis berwajah manis dengan rambut hitam lurus sebahu dan wajah manisnya, ia tersenyum ke arahku.
“Wah… apa mungkin dia ingin jalan denganku? Atau mungkin ia ingin minta antar kepadaku?, atau jangan-jangan…”
Belum lagi khayalan tinggiku berspekulasi ia berkata dengan suara lembut yang manja.
“Mas… uang warnetnya belum dibayar…” ujarnya pelan.
“What..the…” lagi-lagi aku mengucapkan kata-kata itu, hancur sudah, hancur sudah, tega sekali kau memberi harapan padaku wahai bidadari cantik. Kesal dan gundah gulana yang kurasakan semakin bertambah dengan senyum renyah dari bibir manis gadis penjaga warnet tadi, seadainya senyum itu bisa terus kunikmati setiap harinya, owh… gustii…
Aku serahkan uang 3 ribu rupiah sesuai dengan tarif warnet tadi, lalu iapun pergi dengan cuek kembali ke dalam warnet tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kustarter motor bebek tuaku lagi, rencananya aku mau pulang, namun baru beberapa meter aku pergi dari warnet terkutuk tersebut, motorku oleng, seperti kehilangan keseimbangan, ada apa ini?
Aku berhenti di pinggir jalan, lagi-lagi tepat didepan couple yang lagi duduk berduaan di bawah pohon rindang tersebut..
Owhh… kenapa seharian ini aku disindir terus-terusan ketemu couple?, apa salahku wahai gusti…? kenapa kau biarkan aku menjomblo seperti ini.
Kembali ke permasalahan awal, dan tinggalkan doa lebayku tersebut, aku cek ban depanku, nothing problem?, lalu ke ban belakang ku, dan..
“What the…” ban belakangku kempes, dan terpaksa aku dengan lunglai mendorong motor ini ke bengkel terdekat. Yah, terdekat, sekitar 2 kilometer dari tempatku sekarang. Diiringi lirikan tajam bak mata elang dari orang-orang di sekitar yang melihatku dengan aneh, aku cuek saja, toh tak ada yang mengenalku, namun…
“Motornya kenapa?” ujar seorang cewek yang berada di depanku
Ku dongkakakan kepalaku ke depan, “Mia?” Aduh… mimpi apa aku semalam hingga bisa bertemu dengan gadis pujaanku ini, namun aku segera teringat ia sudah punya pacar, sehingga dengan gaya cool dan dingin aku menjawab pertanyaan gadis tersebut.
“Ehmmm… tidak apa-apa, hanya kempes sedikit” jawabku tegas dan sok cool sembari tetap bejalan melewatinya.
“Aku bantu ya..” jawabnya pelan, owh gustii… kenapa kau memberikan aku anugrah atau cobaan yang begitu berat seperti ini?, dan lagi-lagi dengan gaya cool aku anguk pelan tanda setuju.
Kami berdua duduk berdampingan ditemani bau pembakaran ban dan oli-oli di bengkel tersebut, kami berdua berbincang ringan, aku tetap dengan tutur ucap yang cool setiap kali menanggapi pertanyaannya,
“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu” tiba-tiba ia berbicara pelan, pelan sekali, aku terhentak, meleleh juga mendengaranya,
“Ada apa?” jawabku
“Aku sebenarnya… ehmm… sebenarnya..” owh gusti dia berbicara dengan begitu pelan, sebenarnya ada apa?, apa yang ingin dia katakan kepadaku?, apa mungkin dia ingin bilang… “sebenarnya aku suka padamu”. What the… indah sekali… owh…
“Sebenarnya aku suka…” oh my god… betulkan.. betulkan…, dia suka sama aku, ahahaha benar sekali, sorak sorai bergemuruh dalam hatiku, wajahku bersemu.
“Aku suka dengan cerpen tulisanmu…” ahhhh… apa? dia tadi bilang aku suka denganmu kan? Apa aku tak salah dengar?, lalu aku coba pastikan kata-katanya tadi.
“Apa tadi?” tanyaku dengan segenap penasaran, rasa cool ku hilang sudah.
“Aku suka dengan cerpen yang kamu tulis, aku tak sengaja baca di pembungkus gorengan ketika aku sedang jalan sama Anggi” jawabnya panjang lebar…
Apa? Pembungkus gorengan? Cerpen? Berarti bukan suka denganku? Suka dengan cerpenku? Owh tunggu dulu? Bagaiman bisa cerpenku bisa jadi pembungkus gorengan? Apa mungkin kopian yang aku buang ke kotak sampah bisa sampai ketempat penjual gorengan?
“Ehmm.. mia, memangnya pembungkus gorengan yang mana?” tanyaku menyelidik
Ia keluarkan sesuatu dari saku celananya, dan memberikan sebuah kertas lusuh yang sudah berbekas minyak gorengan aku baca disana, yah… benar ini cerpenku?, bagaimana bisa begini? Kok aku tak diberitahu dahulu?, kenapa dimuat di majalah ini tanpa sepengetahuanku?, dan jelas-jelas disana tertulis dan terpampang namaku.
Olalala… baru aku sadar, disana aku menulis alamat yang salah, dan juga baru aku sadar nomor handphone yang kuberi ke majalah tersebut juga nomor handphone yang lain, segera kurogoh dompetku, kuambil kartu memori yang satunya lagi, aku pasang dan.. sebuah pesan masuk kehandphoneku.
Dan tertulis disana, “selamat tulisan anda lolos seleksi dan akan diterbitkan pada majalah kami edisi bulan ini, hadiah akan kami kirimkan setelah anda mengkonfirmasi pesan singkat ini, terima kasih..”
“Owhh… yeaahhhhhhhh…” ujarku keras dan panjang, kali ini tak kuhiraukan lagi orang-orang yang melihat ke arahku, aku pegang tangan Mia yang lembut itu sembari tersenyum merkah ke arahnya, dan ia pun membalas dengan senyum yang tak kalah manisnya.
“Ternyata aku bukan lelaki pecundang, Mia…” ujarku pelan
“Memang bener, kamu itu bukan seorang pecundang Firman…, kamu itu seorang pemenang, pemenang segalanya termasuk hatiku” balas mia pelan dengan wajahnya yang memerah, aku terkaget mendengar hal tersebut, namun rasa haru yang berlebihan membuat aku tak mampu berkata-kata, hanya tangannya saja yang semakin erat kugengam. Owh… indahnya anugrah darimu tuhan…

Cerpen Karangan: Redho Firdaus
Blog: Http://redrunningstory.blogspot.com/
seorang penulis muda amatir yang sedang belajar untuk menulis, berambisi menjadi penulis besar dan membuat tulisan penggugah semangat kaum muda seperti bang fuadi dan bang andrea..
sumber : via cerpenmu
Tag : ,

maling bertobat

By : Unknown
“Sauurr! Sauur!” teriak Gentong sambil memukul-mukul kentongan yang besarnya hanya sepersepuluh dari bobot tubuhnya.
Salah seorang menimpuknya dengan roti kecil yang langsung mendarat tepat di pipi kanan Gentong. Tanpa pikir panjang, Gentong pun meraih kue itu dan langsung melahapnya habis.
“Woy.. Jam berapa ini? Lo gak liat, ini tuh baru jam 1. Paling, cucu adam baru pada teler.” sahut temannya.
Gentong hanya menggeleng sambil memainkan tangannya kayak guru yang lagi ngejelasin materi. “Sodara-sodara.. Kita itu harus bergerak lebih dulu daripada mereka. Nanti kalau kita kesiangan, misi kita ga berhasil lagi. Ada juga mereka bangun, trus ngabisin makan saurnya. Gimana nasib kita sodara? Masa kita ga kebagian makanan lagi?” jelas Gentong berpidato.
“Ah lu Tong, otaknya penuh sama makanan mulu! Kita tuh maling professional, ngeburu tv, kulkas atau ngga ipod. Bukannya ngeburu makanan, huh ngga level lo. Dasar Gentong!” timpal salah sorang temannya lagi.
Tak lama, lampu petromaks bewarna pink kemerahan menyilaukan mata kantuk mereka. Seorang bapak tua menghampiri Gentong dengan jalan yang sudah bertopang kayu namun rambutnya masih klimis, karena baru dicuci sama rinso anti noda terbaru. Haha x_x
“Tong, kok belom pada bangun sih? Bentar lagi proyeknya kan dimulai.” tanya Bapak tua sambil meluruskan rambutnya ke atas bak naruto jompo.
Gentong menghela napasnya, namun anehnya bapak tua itu langsung menutup hidungnya. Gentong nyengir sendiri, ia baru teringat kalau semalam, ia baru saja menghabisi sekeranjang pete ijo.
“Anu pa.. Anu.. Pada kaga mau bangun.” Gentong berlaga gagap. Pikirnya, ia baru saja berhasil menirukan gaya aziz gagap. Sempat terlintas di otaknya untuk mengganti nama jadi Gentong Gagap.
Bapak tua menatap bingung Gentong yang masih nyengir gak jelas. Sambil mengernyitkan kening ‘Duh, gue jadi tambah ngeri sama dia. Jangan-jangan dia naksir lagi sama gue, gara-gara rambut klimis yang baru di rinso-in ini.’
“Tong, Oyy!” seru bapak tua itu.
Gentong mengerjap-ngerjap dan langsung bersikap ibarat anggota PBB yang lagi hormat. “Siap, pak!”
“Tong, lu napa sih? Senyum-senyum sendirian, ngga ngajak-ngajak gue.” keluh bapak tua, keki.
Gentong malah tambah cengengesan sambil garuk-garuk kepala. “Maap pak. He..he..”
Pa tua menaikan celana jins nya yang agak kedodoran akibat nyolong punya temen sebelahnya. Di belakang celana terdapat tulisan ‘Maling-maling kece’
“Udah sana, bangunin temen-temen lu. Heran gue, kok yang rajin bangun cuma lu doang ya.”
“Ya, begitulah pak. Kan kalau saya yang bangun pertama, saya pasti dapet jatah makanan paling banyak.” timpal Gentong masih dalam ekspresi yang sama.
Pa tua menggeleng. “Dasar emang, otak lu otak gentong. Ya udah, gue tunggu di pos ronda. Sumpeh, nyamuknya banyak banget kalau nunggu di pohon beringin. Ada juga, nanti rambut klimis gue jadi butek gara-gara dijilatin nyamuk.”
Gentong tergelak puas. Sedangkan si bapak tua tadi udah cepat melesat dari hadapannya. Takut nanti, tawa Gentong mecahin gendang telinganya.
Semuanya telah beres. Dari mulai tas, senter, maupun sarung buat menaruh cadangan makanan apabila tasnya nggak muat. Gentong men-cek kembali perlengkapannya. Oke, sempurna! Sebelumnya saya ingin jelaskan, kalau disini setiap maling yang masuk ke rumah itu ada dua. Bukan dua-duanya bantuin gotong. Tapi, yang satu tugasnya nyanyi, biar orang yang mau dirampokin tidurnya tambah nyenyak. Dan satu lagi tugasnya buru barang yang ingin dirampok. Wkwk :-D #tamplok penulisnya
“Ehm, tes.. tes..” Gentong men-cek pita suaranya
“Nyanyi apaan ya ntar gue?” tanyanya sendiri
“Nina bobo udah sering. Potong bebek udah pernah. Emm Happy Birthday, ah yang ini gue ngga bisa ngomong inggrisnya.” Gentong menyibakkan rambutnya yang agak kedepan. “Gue kan cinta Indonesia” pikirnya, lalu tersenyum renyah.
“Tong, lama amat sih lu. Udah mau berangkat nih..” panggil salah sorang teman Gentong, yang menjalani misi rampok bersamanya.
Gentong pun terkesiap. Ia melesat dengan baju yang sama seperti kemarin-kemarin dulu. Pakaian yang serba hitam. Kuku di menipedi hitam, lipstik & eyeshadow nya hitam, tak lupa juga sarung penutup tubuhnya yang didapat dari warisan kakeknya pun bewarna hitam. Gentong berpikir sejenak
‘mungkin lebih cucok, kalau sarungnya jadi warna pink kali yah.’
Tujuan pertamanya adalah rumah si Somad. Seorang bocah kecil yang selalu pake sorban dan peci kemana pun ia pergi. Dan pastinya selalu pakai baju koko, masa iye pake sorban trus pake kaos oblong? Ada juga diketawain sama anaconda yang diperut. Ha..ha.. :D
Gentong menyelusup lewat pintu belakang. Jleep. Jidat Gentong langsung beradu dengan tembok beton di sebelahnya. ‘Aduh sungguh sial..’
Pintu pun terbuka dengan sendirinya. Gentong langsung melesat cepat, ia sangat tau tujuan pertamanya, sebelum ia menyanyi ia harus mengisi perutnya dulu, yaitu ke D-A-P-U-R., tempat favoritnya. Beberapa kue-kuean yang kayaknya buat persiapan lebaran, telah berhasil masuk ke dalam tas Gentong. Gentong tersenyum lega ‘Lumayan nih, lebaran ga usah ngredit kue ke pa tua.’
Sayup-sayup Gentong mendengar suara lantunan ayat-ayat suci yang bergetar lembut membangunkan bulu kuduknya yang selama ini tertidur pulas.
Di dalam kamar, Somad memang sedang mengalunkan ayat-ayat suci itu tiba-tiba mendengar suara dentingan piring pecah. Somad terkaget dan bangkit.
“Astagfirullah.. Perang dunia ke-3 meledak. Bersiap, waa caw haa.” Somad melancarkan aksi karate yang baru kemarin ia dapat dari tukang bakso sebelah.
“Jurus bakso pedes.” Somad kembali melancarkan salah satu jurus karatenya.
Nyak dan babe Somad yang masih tertidur dalam dekapan guling yang agak pesing itu sontak terbangun dan ikut-ikutan menggerakan kedua tangan mereka meniru gaya si Somad.
Gentong yang masih berpijak di dapur pun panik. Kakinya gemeteran kayak orang lagi nahan sesuatu*. Mukanya yang udah pake blash on warna hitam terlihat makin item. Cukup lama Gentong terpaku dalam kepanikannya. Sampai dari kejauhan ia melihat 3 superhero yang siap beraksi.
Seorang bapak renta berkumis tebal yang mirip chaplin tapi lebih mirip chaplin yang versi indonesiannya yakni jojon, membawa ban motor dan kaca spion yang kacanya udah almarhum karena keinjek sendiri. Lalu ada wanita tua yang hanya pake kupluk serta daster panjang yang agak sedikit robek sambil membawa bantal gulingnya. Dan satu lagi, sorang anak kecil bersorban membawa gayung sekaligus embernya.
Lengkaplah sudah. Superman, Catwomen dan Batman.. #eh ralat, karena keluarga Somad lebih suka yang ke-indonesiaan. Maka jadilah.. jreeng – jreeng – jreeng ~~ Gatot kaca, Cat wadon dan Unyilman ~~
Degup jantung Gentong semakin cepat tak terkendali. Keringat dingin mulai mengaliri tubuhnya. Gentong mencoba menghela napas untuk menenangkan pikirannya. Sebutir darah pun akhirnya berhasil masuk ke otak Gentong setelah melewati perjalanan sulit karena terhimpit sisa makanan.
Cliing. Gentong baru teringat.
“Oiya, gue kan pake item-item, kalau ngumpet di bawah meja pasti ngga keliatan. Huh.” Otot nya langsung melemas. Sedangkan otaknya masih berpikir betapa bodohnya dirinya.
“Ema gue ngga pernah nyekolahin gue sih, makanya gue jadi bego gini.” pikirnya sendiri.
Si Gatot kaca, Cat wadon, dan Unyilman masih terus mencari sosok misterius itu. Cat wadon memilih mencari ke kamar mandi, karena dari tadi dia udah kebelet. Gatot kaca malah memilih ke tempat motor otentiknya disimpan, karena takut ada sesorang mengambil bagian dari motor yang merupakan pewarisan kakeknya dulu.
Nah.. yang paling pinter kayaknya cuma si Unyilman alias Somad, Somad tau pasti bunyi yang terdengar tadi adalah bunyi piring pecah. Dan piring itu pasti adanya di dapur. Somad melangkah kesana dengan harap-harap cemas, takut, kalau kue nastar yang dibeli pakai hasil rengekan pada babenya itu hilang. Karena butuh berhari-hari buat Somad ngumpulin air mata buayanya untuk minta duit ke babe. Sedangkan air matanya habis diperes kemarin pagi, jadi sekarang pasokan air matanya belum cukup banyak.
Ketiga superhero itu saling berpandangan karena belum juga menemukan sosok itu. Somad memberanikan diri membuka lemari es dan mendapati kue nastarnya yang benar-benar hilang.
“Nyaak, babe.. Kue nastar somad …ilaang.”teriak Somad yang membuat semuanya tutup kuping, termasuk si kulkas sendiri.
Air mata yang membendung pun ga bisa ditahan Somad. Namun setelah beberapa detik, Somad cepat-cepat menghapus air mata itu, dia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk merengek pada babenya buat beliin kue nastar baru lagi. Lebih baik ia menyimpan air matanya untuk saat yang tepat
“Ada apa sih umi, abi?” tanya seorang wanita yang turun menekuri anak tangga dengan anggun. Dihiasi jilbab oranye dan gamis bermotif sakura yang membalut tubuh mungilnya.
Sontak semua mata tertuju pada sosok itu. Termasuk, Gentong yang masih ngumpet di kolong meja pun ikut mesem-mesem sendiri karena mengira wanita tadi adalah bidadari yang baru saja turun dari kayangan untuk berjodoh dengannya :D geer banget
Namun tak satupun dari mereka yang angkat bicara. Suasana hening sejenak. Tak lama, kumandang adzan memenuhi lorong-lorong sunyi di telinga mereka. Semua mata itu beradu kembali, tak percaya. Sudah berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk ini? Semua menggeleng dan meraba perut mereka masing-masing.
Somad berpikir sejenak. ‘untung aku makan banyak pas tadi malem. Ya, seenggaknya lumayan buat makan anaconda ini biar ngga ngamuk sampe ntar buka.’
Sedangkan si babe dan nyak hanya geleng-geleng kepala. Sambil terus meraba perutnya yang udah kepalang laper. ‘Bobo yang nyaman ya anaconda. Bangunnya nanti pas buka’ pikir mereka bersama.
Dan Aisyah, mpo’ nya somad langsung tancap gas menuju masjid dengan Somad yang masih melingkari sorban di lehernya. Gentong malah terenyuh, melihat kekompakan keluarga tadi. Tapi, hatinya begitu teriris untuk pertama kalinya karena telah mencuri setoples kue ini, semua jadi kacau.
Gentong mengikuti langkah Aisyah dan Somad menuju masjid. Sedangkan ia hanya berdiri di luar masjid yang ditutupi pohon mahoni yang tumbuh subur di antara pelataran masjid ini. Gentong berjanji, tidak akan pergi, sebelum melihat senyum merekah di bibir Aisyah dan Somad. #Hehew maling berperasaan nih..
‘Allahu Akbar’
Aisyah dan Somad mengikuti sholat berjamaah dan dilanjutkan kultum singkat dari Pa ustad. Sedangkan Gentong masih berdiri di luar masjid, karena ia sempat teringat perkataan dari kakek buyutnya
‘Untuk semua maling dan keturunannya tidak diharapkan untuk memasuki tempat-tempat suci karena tubuh ini terlalu kotor.’
Gentong teringat kembali. ‘iya yah, gue udah berapa minggu ya ngga mandi?’
Pusat perhatiannya kembali pada sosok-sosok itu. Terlebih kepada Aisyah. Gentong geleng-geleng kepala sendiri setelah ia menyadari begitu cantiknya wanita yang sedang dalam pandangannya ini.
“Gue baru tau, kalau Somad punya mpo yang secantik ini.” gumam Gentong
Pandangan Gentong kembali menerawang. Tampaknya sedang banyak hal yang menari-nari dalam bayangnya.
“Mad, nape lu. Daritadi kayaknye ngelamun terus?” tanya Pa ustad, memfokuskan kembali pandangan Gentong pada sosok itu.
Somad yang ditanya tadi malah menggeleng. “Itu pa, emm itu..”
“Itu, itu apa?” cecar Pa ustad.
Somad menghembuskan napas pasrah. “Kue nastar Somad, ilang pa. Somad takut, nanti Somad ngga bisa lebaran.”
Pa ustad berganti menggeleng. Sontak semua mata tertuju pada Somad kemudian tergelak bersama.
“Eh, udeh udeh. Jadi pade rebut sih. Somad, lebaran itu kaga tergantung sama kue nastar. Emang lu mau, lebaran sendirian bareng kue nastar doang?”
Somad menggeleng dan menerawang.
“Ya udeh gak usah sedih lagi ye. Muka lu udah kaye empang retak. Ha..ha. Kan kata lagu, ‘Ngga punya kue pun ngga apa-apa, masih ada kue tetangga.” Jawab Pa ustad seraya bernyanyi, menghasilkan senyum renyah untuk semua, termasuk Somad dan Aisyah.
Gentong yang masih setia berdiri di luar masjid pun jadi semakin terenyuh. Dalam hati ia bernapas lega, karena tidak jadi membatalkan lebarannya si Somad. Ya kalau sampe lebaran itu diundur, Gentong ngga tahan lagi pengen nyobainn ketupatnya Ma Ijah, ibunya si somad.
Lantunan ayat suci keluar dari bibir mungil Aisyah. Begitu merdu, menenangkan jiwa. Untuk kesekian kalinya Gentong kembali terenyuh. Ia merasa, angin sepoi-sepoi sedang mengipasi tubuhnya. Tapi ternyata, itu memang benar. Gentong mencium sendiri bau tubuhnya yang begitu semerbak, karena sudah hampir se-abad belum mandi bunga 7 rupa. :D
Gentong terpaku dalam lantunan ayat-ayat suci itu. Ia terharu, begitu lincahnya Aisyah mengalunkan ayat itu dalam padanan simphony yang indah. Gentong kembali memperhatikan tubuh Aisyah dari atas kembali ke bawah. Sungguh sempurna dan makin sempurna. Wanita idamannya hadir dalam dunia nyata.
Akhirnya Gentong kembali ke persinggahan dalam langkah gontainya.
Langit membiru. Angin menghembus. Gentong terduduk di atas kursi panjang di bawah sinar mentari yang tak begitu cerah hari ini. Tenggelam dalam pikirannya yang merampas alam sadarnya. Burung berkicauan dalam symphony-nya. Gentong kembali dan berpikir sejenak
‘Ga enak ya, jadi maling. Mending kalau berhasil, kalau ngga harus lari-larian atau digebukin warga. Masa gue harus jalanin sisa hidup gue untuk jadi maling selamanya? Gue kan juga mau, hidup damai sama mereka. Dihargai, dihormati, bukan dicaci maki.
Apalagi liat mpo nya somad, Aisyah. Duuh, kaya liat air di gurun pasir. Seger, cantik. Lagian, mana mau si Aisyah pacaran ama gue, kalau gue masih jadi maling gini. Huh.’
Petang hampir sirna. Kemilau senja yang elok berganti dengan serinai malam yang perlahan jatuh di altar langit. Indah dan sempurna. Ciptaannya saja seindah ini, bagaimana dengan penciptanya? Pasti Ia lah maha dari segala maha keindahan. Namun, beginikah rasa syukur kita atas semua keindahan yang telah Ia berikan? Mari kita merenungi hati kita masing-masing. Terkadang, mulut dengan gamblang menyatakan kesalahan orang lain, tanpa pernah berpikir dulu sebenarnya kita pun juga punya kesalahan. Gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diujung lautan kelihatan. Udah ah, ngga usah panjang-panjang pidatonya. Hahaa :D
Kembali pada sosok Gentong. Sosok yang hatinya sedang diserang kalut yang makin berkecamuk. Bimbang, bingung, galau hingga ia tak tau lagi, apa yang seharusnya ia rasakan.
“Gue mau tobat, Le.” Gentong memulai curhat pada sohibnya.
Sule mengernyitkan keningnya yang bergurat roma keheranan. “Hah? Serius lo, Tong?”
Gentong mengangguk. Pandangan mereka beradu. Namun cepat kembali pada alam pikiran mereka masing-masing.
“Bukannya gue mau ngelarang lo. Tapi.. bukannya kita harus ngehargain sesepuh kita yang dari bayi dulu udah jadi maling? Ditambah kakek kita yang kemaren dapet maling award. Kita semakin digembleng juga untuk mendapat itu. dan pastinya kita harus mengorbankan seumur hidup kita untuk jadi maling.” lanjut Sule dengan perasaan bersalahnya.
Gentong menyergah. “Le, lo ngga ngerti. Gue tuh mau hidup damai, bukan jadi buronan warga mulu. Gue mau le, hidup kayak orang lain. Gue bahkan benci, kenapa gue harus di lahirin di keluarga seperti ini.”
Mereka berdua menarik napas dalam. Lalu dihembuskan bersama.
“Ya, kalau emang itu keputusan lu, gue cuma bisa ngedukung, Tong. Semoga lu bisa bahagia atas keputusan ini. Goodluck sobat.” Sule menepuk bahu Gentong dan segera berlalu menghapus jejak nya yang terbawa riuh angin.
“Pipih.. Mimih..” sahut Gentong, kembali berpikir sejenak ‘kok gue kaya aulel & aziel ya?’
“Aurel Azriel kali.” jawab Mimih menghentakan pandangan Gentong. Ia tercengang ‘gimana nyak bisa tau, suara hati gue ya? Punya kontak telepon kali ..’ batin Gentong.
Si Nyak malah melempar lampu teplok yang sudah tak berapi lagi. “Kontak batin beg*”
“Hehe, nyak kok tau sih.” tanya Gentong kesekian kalinya, kali ini benar-benar terucap dari mulutnya.
“Iya lah.” jawab Nyak keki.
“Ada apa, Tong?” giliran Babe bertanya.
Lama Gentong terpaku, menekuri lantai yang kini dipijaknya. Kedua orang tuanya saling berpandangan. Pikiran mereka sama, bertanya-tanya ‘ada apa gerangan dengan si Gentong ..’
Gentong mengambil napas dalam, menghembusnya tenang. “Nyak, beh, Gentong mau .. bertobat. Gentong mau berenti jadi maling.” ucapnya, menatap kedua orangtuanya dengan penuh pengharapan.
Sontak mata-mata itu menatap balik Gentong geram, tapi tak sempat terlukis dengan kata-kata karena lebih dulu diteduhkan oleh rintik hujan yang perlahan jatuh menuruni bumi dari khayangannya.
“Tong, lu kan tau. Lu adalah harapan satu-satunya nyak dan babe untuk meneruskan bisnis keluarga ini. Lu juga tau, gimana sikap kakek lu nanti kalau lo bener-bener mau…” ucap Nyak yang tak sanggup lagi meneruskan kata-kaya karena terpotong oleh air mata yang mengaliri pipinya.
“Maap Nyak, beh. Tapi Gentong gamau, untuk seumur hidup jadi maling. Gentong punya impian, Nyak. Gentong punya cita-cita untuk dicapai. Dan cita-cita Gentong bukan untuk jadi maling kayak gini.” Jelas Gentong panjang kali lebar.
Semua terenyak. Berkutat dengan imajiner mereka masing-masing.
Sedangkan Babe telah tak sanggup menahan air mata nya yang telah memanas sejak tadi. Babe menatap Gentong, teduh. “Tong, babe bener-bener terharu. Lu bisa ngambil keputusan sebesar ini.” Babe menepuk bahu Gentong.
“Dulu.. babe juga punya cita-cita untuk jadi perwira TNI. Tapi babe terlalu kecil untuk impian itu. Babe takut, ngga berani, untuk mengambil keputusan yang sebetulnya sederhana ini, ya kayak lu gini. Tapi babe ngga mampu. Babe hanya pasrah atas jalan takdir yang sama sekali bukan impian babe. Lebih tepatnya mimpi buruk.”
Semuanya menarik napas dalam. Lepas dalam kehangatan.
“Babe harap, lu bisa jadi anak berguna ya, Tong. Babe ingin liat lu bisa meraih cita-cita. Maafin babe tong, maafin babe, karena babe udah ngebesarin lu di tempat yang ngga baik gini. Maafin babe yang udah nyuruh lu jadi maling. Maafin babe karena belum bisa ngedidik lu dengan baik.”
“Beh.. Babe ngga perlu minta maaf gini. Gentong yang banyak terimakasih, karena babe sama nyak udah mau ngerawat Gentong sampe gede gini. Gentong janji, Gentong akan jadi anak yang membanggakan untuk kalian.” Gentong mencium tangan kedua orang tuanya.
“Doa’in Gentong ya Nyak, ya Beh.” pinta Gentong lagi. Tulus.
Sudah seminggu dari peristiwa mencengangkan itu. Tapi kini, semua orang telah menerima dan bersikap layaknya biasa terhadap Gentong. Tali silaturahmi antar sesama maling pun masih berjalan baik. Sedang si Kakek Gentong yang dulu sangat mengecam keras keputusan Gentong, perlahan akhirnya menerima dan berusaha memahami.
Mulai saat ini, Gentong jadi rajin mengunjungi masjid. Ia mempelajari ilmu agama mendalam. Dari mulai belajar membaca Al-Qur ‘an, fiqih, tauhid dan tafsir ia tekuni dengan mantap. Semua jama’ah masjid, menerima kehadirannya. Walau mereka tau, si Gentong adalah mantan maling paling terkenal dikampung mereka. Tapi, semua orang bisa bertobat bukan? Dan Allah maha penerima taubat hamba-hambanya sebesar apapun dosa itu.
Ilham telah memasuki tubuh Gentong. Langkahnya menjadi ringan untuk menuju masjid, walau terkadang salah satu alasannya karena ingin menemui Aisyah, tapi sholat berjama’ah tak luput ia tinggalkan.
Pertemuan Gentong dengan Aisyah menjadi rutin belakangan ini. Karena Gentong telah mengikuti pengajian rutin Ust. Riza. Ham[ir setiap sore mereka bertemu, bertegur sapa, ataupun sedikit berbincang di sela waktu senggang.
Sore ini Gentong kembali ke pengajian. Dengan langkah semangan ’45, ia menyusuri jalan berkelok yang dipenuhi tanah becek akibat hujan pagi tadi. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Langkah anggun Aisyah menyilaukan mata besar Gentong. Perlahan, dada Gentong mendadak penuh sesak. Lidahnya berubah kelu. Ototnya meregang. Semua system tubuhnya seperti tak berfungsi lagi, tatkala Aisyah semakin melangkah mendekatinya.
“Assalamuaikum. Bang Gentong, kenapa ngga masuk ke dalem?” tanya gadis itu. lembut.
Pipi Gentong semakin menunjukkan rona merahnya. Masih dengan napas yang terengah, Gentong mencoba menghelanya. “Iya, kan nunggu neng Aisyah.”
Aisyah pun tersenyum membalasnya. Langkahnya berirama dengan langkah Gentong memasuki rumah pengajian, sore itu.
Malam ini terlihat begitu cerah. Bulan bersinar setitik melengkuk. Bintang berkelip bergantian, memperlihatkan rasi bintang centaurus yang menawan. Belum lagi, Mars si planet merah yang menampakkan diri diufuk timur. Semuanya begitu indah. Tak satupun kata yang dapat melukiskan.
Gema takbir bersahut-sahutan. Iring-iringan sholawat memper-eloknya. Lidah seperti tak terasa berucap lagi karena begitu seringnya kalimat itu terucap.
Allahu akbar Allahu akbar wa lillah hil hamd
Kata itu terucap berulang kali dimulut Gentong sambil memukul-mukul kentongan yang dibawanya. Sejenak pikirannya seperti terempas ke lorong waktu. Dulu, ia juga menggunakan kentongan ini untuk membangunkan temannya untuk ber-maling, tapi kini dirinya sangat bersyukur. Dihari suci nan fitri, ia telah bersih. Bukan hanya bersih fisik, namun semoga juga bersih hati. Tak ayal, ucapan syukur itu berulang kali terlontar.
Usai melaksanakan sholat ied, Gentong langsung bergegas ke luar rumah menyusuri jalan setapak yang bertempok bata di kedua sisinya. Langkahnya terlihat gugup namun berusaha setenang mungkin dengan napas yang berulangkali dihelanya. Tangan kirinya melingkari tas kecil yang dipenuhi makanan ringan.
“Assalamualaikum” Gentong mengetuk pintu kayu itu.
Selang beberapa detik, pintu itu terbuka. “Waalaikumsalam. Eh Gentong.. Masuk sini..” Wanita setengah baya itu menyambut.
“Lagi pade makan. Lu udah makan belom? Makan bareng aja ye.”
“kalau mpo ngga keberatan sih. hehe..” Gentong berlagak malu-malu kucing. Eh asal jangan malu-maluin deh. x_x
Semua orang terpaku pada sosok Gentong. Hening. Riuh angin yang perlahan menghembus dari sela-sela jendela mencairkan suasana.
“Eh Gentong, sini-sini makan. Syah, ambilin makanannye buat Gentong.” sapa Babe.
Aisyah pun mengangguk, tanpa banyak tanya ia langsung mengambil seporsi nasi, sayur beserta lauk pauknya.
Kebiasaan Gentong masih sama, senyum-senyum ngga jelas di depan Aisyah yang tampak sangat anggun siang ini. “Makasih ya..”
Aisyah membalas senyum itu dan terduduk kembali dikursinya.
“Gimana Tong? Enak ngga masakannya? Ini si Aisyah nih yang bikin.”
“Wah enak banget beh, apalagi kalau bidadari yang bikin. Tambah wuenak.” jawab asal Gentong.
Semua tenggelam dalam gelak tawa.
“Oh ya, ngomong-ngomong ada apa nih Tong, kok tumben lu kesini?” tanya Babe setelah usai makan bersama.
Gentong tersentak seperti kehabisan kata-kata. “Emm, ini beh. Oh ye, ini ada sedikit kue-kuean buat semuanya. Maksud Gentong dateng kemari, Gentong mau ngelamar Aisyah beh.”
Kembali. Semuanya saling berpandangan bertanya-tanya.
“Iye iye. Itu sih terserah Aisyah aja. Gimana Syah?” Babe melempar pertanyaan, mencairkan suasana.
Aisyah tersenyum, mengangguk. “Aisyah.. mau.”
“Oke lah kalau begitu, langsung aja.” Nyak menimpali.
Air muka Gentong berubah. Pipinya memerah. Rasa bahagianya tidak dapat disembunyikan.
“Tapi.. Apa bang Gentong mau, nunggu Aisyah untuk menyelesaikan studi di maroko 4 tahun lagi?”
Gentong terdiam cukup lama. Namun kembali, dan tersenyum. “Nunggu 100 tahun lagi unutuk Neng Aisyah, bang Gentong juga mau.”
Semua kembali dalam gelak tawa.
- Tamat -
Cerpen Karangan: Tutut Setyorinie
Facebook: Tutut Setyorinie
sumber: via cerpenmu
Tag : ,

bongkar rumah sendiri

By : Unknown
Malam itu hujan deras aku suamiku juga teman-temanku sinta endi dan kokom terjebak hujan di desa kalong liud. Kami berlima memang berniat jalan-jalan malam. tapi malang menimpa kami. belum sampai ke tempat tujuan kami terpaksa berhenti di samping balai desa tepatnya di suatu posyandu.
Kami berteduh di tempat tersebut cukup lama. ya lumayan lah cukup membuat kita semua BT. Setelah hujan reda kami sepakat untuk mengurungkan niat kami. Bergegaslah kita untuk puter balik.
Dari pada kebersamaan kami sia-sia suamiku pun mengusulkan untuk kumpul di rumah, tanpa panjang lebar ketiga temanku langsung menyetujuinya. Tapi sedikit masalah, “kom lu ikut gak?” ajak sinta. Rupanya kokom ragu-ragu dia takut kakaknya tau dan memarahinya. Ternyata kokom pergi tanpa pamit. dia kabur bukan tanpa alasan melainkan walaupun dia pamit pasti tak akan di izinkan. dengan berbagai bujukan akhirnya kokom ikut.
Aku sumiku dan sinta sedikit lebih cepat di depan. dan sampai lebih dulu di rumah. Aku yang saat itu basah kuyup segeralah menggati pakaian. Malam yang indah walau tak jadi jalan-jalan tapi kita masih bisa bersenang-senang dengan penuh canda tawa. menghangatkan suasana rumah yang biasanya sepi.
Tak terasa larut malam menyapa. jarum jam sudah menujuk pukul 9. Kokom harus segera pulang pasti orangtuanya cemas mencarinya. Kecemasan ternyata bukan terjadi pada orangtuanya melainkan pada kami semua yang akan mengantarkan kokom pulang. Tak disangka dan diduga ternyata ence kakak kokom berada tepat depan rumahku. Kami berlima bingung bukan main karena bukan hanya kakaknya ence yang super galak ternyata ayahnya pun tak kalah galak.
Kami berfikir kesana kemari untuk bisa keluar dari rumah tanpa harus diketahui ence. bila ence tahu bahwa kokom ada di rumahku bukan hanya kokom yang akan kena marah tapi kita berlima bisa kena sambitan golok pak wahab yang tajamnya bukan main.
Usul demi usul dilontarkan akhirnya kita sepakat untuk membuka jendela berteralis kamar adikku yang berada tepat di belakang rumah. Segala macam peralatan telah dikeluarkan rupanya jendela ini memang sukar untuk di taklukan. Bagai gaya seorang pencuri suamiku dan endi melakukannya dengan sangat hati-hati dan rapi.
Berkat kerja sama dan kekompakan akhrnya jendela tersebut dapat di bongkar dan di lewati endi dan kokom. Perasaan senang dan gembira menyelimuti hati kami dengan tenang endi dan kokom bisa pulang denan santai. Tanpa harus terkena marah atupun sambitan golok.


Cerpen Karangan: Finna Kurniawati
Facebook: Finna Kurniawati (keong)
sumber : via cerpenmu
Tag : ,

mantanmu, gebetanku

By : Unknown
Jumlah gebetan yang pernah bersama denganku selalu berbanding terbalik dengan jumlah mantan yang kukenal. Diibaratkan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami. Pergi ke sana, ketemu mantan, pergi ke sini ketemu mantan. Di mana-mana ada mantan, rasanya duniaku sudah tidak nyaman lagi untuk dihuni. Meski begitu yang menjadikan dunia ini tetap manis adalah dengan kehadiran para “bidadari” gebetan.
Tapi aku tidak sendirian, masih banyak di luar sana yang memiliki nasib sama denganku. Sebut saja kedua temanku yang tidak kalah “rekor”-nya dalam masalah percintaan. Fian, si jangkung berwajah bayi dengan hati yang polos, pengikut aliran PMDK (Pendekatan Mulu Dapet Kagak), serta Ndaru, peserta SBMPTN (Seleksi Bersama Mencari Pasangan Tanpa Ngantri). Aku sendiri adalah Ale, tanpa diulang, salah satu pencetus Undangan, yaitu mencari pasangan melalui jalur undian atau comblangan. Kami bertiga adalah Trio wkwkwk.
Pada kesempatan yang indah dan mempesona kali ini, cinta datang begitu saja tanpa permisi. Kami bertiga, selalu solid dan setia kawan dalam masalah berbagi, kecuali cinta. Kali ini, dewi Fortuna berpihak kepadaku. Belum lama ini aku berkenalan dengan salah seorang gadis bernama Lili.
“Guys! Doain gua di date pertama ini ya!” ucapku kepada kedua sahabatku itu.
“Nge-date? Udah jadian lu bang?” tanya Fian sambil menggunting kuku kakinya dengan posisi manuever “bangau main demprak.”
“Proses, tinggal nunggu clearance nih hehe,” jawabku bangga. Malam itu aku mengenakan pakaian super mewah dan keruwen banget. Saking kerennya jadi keruwen.
“Makan-makan ya le,” sahut Ndaru dari dapur, sedang memasak mie rebus.
“Emang acara arisan apa,” balasku.
“Peje harus turun nih atau kita demo,” timpal Fian.
“Yoooo!” balas Ndaru.
“Berani meres gua nih?” tanyaku.
“Yaelah bang, lu mah ambon doang tapi unyu,” balas Fian.
“Makanya cewek banyak yang suka,” timpalku pede.
Unyu? Apakah aku selucu itu? Sule kalah dong?
Date pertamaku setelah sekian abad menjomblo, hidup dalam kesendirian. Mantan pertamaku seperti cleopatra, aku menjadi budak cintanya. Dan seterusnya, hingga mantan terakhirku adalah atlit silat yang terkemuka. Tidak cuma hatiku yang kelepek-kelepek, wajahku dibuatnya meletek-meletek.
Aku menangis?
Cuma sekali tiap malam kok. Sambil dengerin lagu galau, kalau tidak Kerispatih yang “Mengenangmu” ya lagu Dewa 19 “Pupus”. Namun semuanya berubah ketika aku bertemu dengan Lili. Sosok gadis yang selalu tersenyum, cantik, pintar, dan mudah tertawa. Padahal lawakanku jayus dan garing nampol, akan tetapi ia tetap tertawa mendengarnya. Tawanya indah bagaikan senandung bidadari dari surga, dan suaranya begitu merdu seperti alunan harpa para malaikat.
Date malam ini harus sukses!
Kami bertemu di sebuah restoran bintang empat, aku sengaja memesan makan malam khusus nan romantis. Tema “Candlelight” dinner menjadi menu utama malam ini.
“Makasih lho kamu udah mau repot begini,” puji Lili yang malam itu mengenakan gaun merah ciptaan seorang desainer terkenal, yang tak kukenal.
“Ini semua istimewa untuk kamu kok,” sahut mulut buayaku mulai beraksi.
“Tapi kamu romantis banget,” balasnya. “Kamu cowok pertama yang ngajakin aku nge-date di tempat… mewah seperti ini…”
“Kalau jadi pacarku tiap malam juga kita makan di sini,” sahutku.
“Eh? Apa kamu bilang?”
“Eh enggak em… anu mari makan dulu, kasihan makanannya sudah dingin karena terpana dengan kecantikanmu…”
“Ihhh gombal!”
Aku tidak dapat mengingat menu malam itu. Aku tidak dapat menggambarkan cita rasa tiap sendoknya. Yang kuingat dan kuperhatikan hanya Lili seorang, meski makanku jadi belepotan seperti bayi. Sendok di sana, makanan di sini. Tapi Lili begitu perhatian, ia langsung menyeka mulutku dengan penuh kasih sayang. Aku tidak dapat melupakan malam ini.
“Terimakasih ya Ale,” katanya setelah kuantar pulang. Aku mengantarnya hanya sampai depan gerbang.
“Sama-sama,” jawabku senang.
“Gak mampir dulu? Di dalam ada kakak dan adikku, ibu dan ayah juga.”
“Mungkin lain waktu, lagipula sang putri butuh istirahat agar kecantikannya tetap terjaga ya kan?”
Lili hanya tertawa mendengarnya. Soal gombal aku ahlinya, menaklukan hati wanita aku-lah pakarnya.
Beberapa minggu berlalu, hubunganku dengan Lili semakin bertambah erat. Dan sepertinya, kedua sahabatku ini semakin penasaran dengan sosok Lili yang menjadi target operasiku.
“Bro, bawa dong gebetan lu ke sini, kita-kita kan mau kenal!” pinta Fian yang sedang menonton bersama Ndaru.
“Entar deh kalo udah jadi!” kelitku.
“Bilang aja takut tak ambil le,” sahut Ndaru.
“Ah udahlah lu berdua nonton JKT 48 aja deh, gua pergi dulu ya, mau jemput Lili latihan nih!” kataku. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya seusai ia latihan basket di GOR.
“Lili? Jadi namanya Lili?” tanya Fian. “Please banget deh kepo nih kritis, lihat fotonya dong? Ada twitternya?”
Karena tidak tahan melihat wajah mupeng sahabatku, aku memberikan akun twitter Lili, yaitu @leeleeboekanahlay.
“Lho? Ini kan…” kata Ndaru sedikit terkejut melihat avatar Lili di akun tersebut.
“Ada apa Ndar?” tanyaku.
“Namanya bener Lili?” tanya dia.
“Iyo atuh, kenapa deh?”
“Mirip mantanku le,” sahutnya. “Mantanku, tapi aku lupa namanya… Ella atau Bella gitu…”
“Moso toh?” tanyaku.
“Persis banget!” kata Ndaru.
“Yakin lu ndar?”
“Hemm… bulu mata sebelah kirinya lebih panjang dari sebelah kanannya enggak? Atau ada rambut uban yang panjang sendiri deket telinganya…?”
“Ndar,” kataku berwajah datar seperti jalan tol. “Cirinya jangan yang begitu dong, ada ciri lain?”
“Hehe maaf le, coba kamu lihat apa ada tahi lalat di leher belakangnya?”
Tahi lalat?
Aku jadi penasaran sekarang. Apa benar Lili adalah “mantan” yang Ndaru maksud? Bila benar, tentunya tidak etis, berpacaran dengan mantan sahabat sendiri. Bukan karena sekon-nya, tapi itu dilarang dalam buku etika bersahabat halaman tiga puluh paragraf dua baris sepuluh kalimat kelima yang berbunyi: “Jangan mengembat apa yang bukan hakmu, ambillah hakmu selain hak temanmu, sekalipun ia melalaikan hak itu.”
Oke, aku akan memeriksanya!
Sesuai rencana, aku menjemput Lili dan mencoba melihat tahi lalat di leher belakangnya… tanpa diketahui olehnya tentu.
“Ada apa Ale?” tanya Lili yang sedikit risih karena melihat tingkahku yang sedikit “berbeda”.
“Ah enggak,” kelitku, masih mencoba memperhatikan tahi lalat itu.
“Kamu sakit leher?” tanyanya.
“Enggak… eh iya, iya deh! Salah bantal kayaknya!”
“Bantal siapa yang kamu pakai memang?” candanya.
“Bantal Ndaru atau Fian temanku mungkin,” jawabku seadanya.
“Ndaru… katamu?” tanyanya seolah mengingat sesuatu.
“Iya… Ndaru… kenapa?”
“Ah enggak apa-apa…” jawabnya seperti mencoba menyembunyikan sesuatu.
Aneh.
Aku jadi semakin penasaran. Jadi aku memakai trik kuno.
“Ada kotoran tuh di lehermu.”
“Eh? Mana?” tanyanya sambil mengibaskan rambut yang menutupi lehernya.
“Itu di belakang!” tunjukku.
“Mana?”
Ah belum kelihatan lagi.
“Eh tuh ada cicak.”
“Eh? Mana? Ih jijik usir dong!”
Aku mengambil kesempatan itu untuk melihat dari dekat. Tak ada. Tak ada ternyata.
Aku lega, ternyata ia bukan orang yang Ndaru maksud… akan tetapi…
“Udah gak ada cicaknya?”
“Eh… iya eh udah pergi tuh ke konser,” jawabku.
Hubungan ini semakin berjalan ke arah yang jelas, tidak seperti wajahku. Akan tetapi, Lili tampaknya curiga kepadaku. Ia memintaku untuk menemuinya di sebuah hotel di wilayah elit. Dia memintaku untuk datang sendirian. Tapi aku takut, jadi aku mengajak kedua sahabatku untuk menjagaku.
“Haloooo, lu seorang yang ambon berwajah seram bertubuh hercules ini takut sama cewek?” kata Fian.
“Serius takut deh, takut diapa-apain, gimana kalo gua diperk*sa sama dia?” tanyaku.
Fian dan Ndaru memasang wajah datar persis jalan tol. “Lu? Diperk*sa?”
“Nanti gua bukan perjaka lagi deh,” jawabku sedih. “Ayolah! Lagian gua curiga sama dia nih!”
“Gua juga penasaran sih le sama Lili ini…” timpal Ndaru.
“Berani bayar berapa lu bang ngajak kita ke sana?”
“Entar gua comblangin deh lu berdua sama temen gua!” jawabku.
“Ciyus?” tanya Fian.
“Temen lu emang ada yang cantik?” tanya Ndaru.
“Ada banyak! Yaaaa…. ada-lah! Kalo gak salah! Gak gua pacarin aja karena itu temen gua!”
Jadi, Trio wkwkwk ini akhirnya pergi bersama. Menuju hotel yang disebutkan oleh Lili. Malam ini, semuanya akan terjawab… kurasa…
“Lantai lima puluh tiga kamar nomor dua,” isi sms Lili kepadaku.
“Tuh baca deh bro! Ngeri ah mainannya udah pesen kamar-kamaran,” kataku.
“Bro,” kata Fian. “Lu kan ambon sangar? Hati lu ternyata hello kitty ya?”
“Bukan bro, itu mah untuk cewek. Kalo teletubbies masih oke deh,” sahutku. “Muka doang serem, hati gua mah selembut salju…”
Aku menyuruh kedua sahabatku untuk mengikuti dari belakang, dan mengawasi dari belakang.
Langkahku sempat terhenti ketika aku tiba di depan pintu kamar hotel yang dimaksudkan.
Nafasku memburu. Jantungku terpompa lebih kencang daripada pompa PDAM. Aku siap, tapi tidak siap, eh galau.
Kuketuk pintunya.
“Masuk,” terdengar suara manis dari dalam. Suara Lili. Pasti, atau suara tante kunti yang menyamar dan siap memakanku. Ihh kok jadi mikir yang tidak-tidak.
“Ini aku, Ale,” kataku.
“Masuk aja Ale,” pintanya. “Tidak dikunci kok…”
Aku membuka pintu. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam. Aku berjalan pelan. Duh update banget ceritanya kaya orang gaul lagi nge-tweet.
Aku melihat Lili tengah berdiri membelakangiku, menghadap jendela, memperhatikan langit gelap dan suasana malam kota hiruk pikuk ini. Wajahnya terhalang oleh rambutnya yang panjang.
“Kamu datang sendiri kan?” tanyanya tanpa menoleh kepadaku.
“Eh anu… iya sendiri kok…”
“Bener? Kamu gak bohongin aku kan?”
“Iya…”
“Ada yang mau aku sampaikan sama kamu… sebelumnya,” katanya lalu menoleh. “Seberapa sayang kamu sama Lili?”
“Eh? Kok begitu pertanyaannya?”
“Ya gak apa-apa kan?”
“Aku sayang dan tulus sama kamu. Sejak pertama bertemu, aku tau bahwa aku tidak salah langkah lagi.”
“Banyak cowok yang ngakunya begitu, ujung-ujungnya malah ninggalin… cowok cuma manis di mulut aja!”
“Beda denganku. Aku manis keseluruhan, hehe kamu tau maksudku kan?” candaku. Jayus. Lili tak tertawa.
“Jayus,” katanya.
Seketika aku menyadari sesuatu.
“Di mana Lili?” tanyaku.
“Apa maksudmu…? Aku Lili? Apa kamu lupa Ale?”
“Bukan,” jawabku. “Kamu bukan Lili. Berhenti menipuku dan hentikan permainan ini!”
Wanita yang berdiri di hadapanku langsung menepuk tangan dan tertawa.
“Kamu memang hebat, seperti kata Lili padaku,” ujarnya. “Dari mana kamu tau aku bukan Lili?”
“Lili selalu tertawa meski aku jayus. Lili sangat ceria. Kamu jutek.”
“Eh enak aja ya!”
“Lalu… siapa sebenarnya dirimu?”
Belum sempat ia memperkenalkan diri, seseorang yang mengejutkanku.
“Ale? Kamu udah sampe? Jahat nih kak Lala gak kasih tau kalo dia udah sampe!”
“Eh? Lala?” tanyaku.
“Iya Ale… kak Lala adalah kakakku… kami adalah anak kembar,” jawabnya.
“UUUEEEHHHH???” betapa terkejutnya diriku. Lili dan Lala, anak kembar.
“Apa-apaan ini….?” tanyaku seolah tak percaya, atheis, tak percaya, ah sudahlah jayus.
Pintu kamar didobrak. Fian dan Ndaru masuk menerjang.
“Ada apa bang ambon?” tanya mereka, yang terkejut juga karena melihat dua wanita yang sama persis, berdiri di hadapan mereka.
“Ndaru…?” tanya Lala terkejut pula.
“Lala….?” tanya Ndaru membalas.
Cinta lama bertemu kembali, CLBK. Ternyata Ndaru pernah berpacaran dengan saudari kembar dari Lili, yakni Lala.
Aku langsung menyatakan perasaanku kepada Lili malam itu juga. Lala merestui kami dan Lili menyetujuinya. Akhirnya aku memiliki hubungan yang jelas! Dengan wanita yang kuidamkan sejak awal bertemu.
Lala dan Ndaru sepertinya balikan, tapi itu butuh proses. Tampaknya sih lampu hijau.
“Reuni yang indah ya,” kata Fian menangis.
“Lho kok lu nangis?” tanyaku.
“Tinggal gua nih yang jomblo.”
Kami tertawa mendengarnya.
“Malam ini gua traktir kita makan!” ucapku.
Semua bersorak.
“Yeee makan enak!” kata Ndaru.
“Makan mewah nih!” timpal Fian.
“Makan di mana Ale?” tanya Lili.
“Kita makan…. di warung pinggir jalan…. katanya nasi gorengnya enak lho!”
“Jayus…” sahut mereka. Kecuali Lili, ia tertawa.
“Eh sebentar deh!” kata Lala. “Aku sekalian ngajak ade kita aja ya!”
“Boleh kan Ale?” tanya Lili menunjukkan wajah imut nan unyu, memohon izin dariku.
Aku mengintip isi dompetku. Ikhlas saja, walau menghela nafas, jatah bensinku harus berkurang bulan ini.
“Adikmu?” tanya Ndaru. “Kamu punya adik lagi La?”
“Iya Ndar… adik perempuan kembarku juga…”
“Eh? Kalian tiga bersaudari kembar semua?” tanyaku.
“Iya…”
“Namanya siapa? Siapa?” tanya Fian senang.
“Lele,” jawab Lili.
Lele? Yang ada patilnya itu? Pikirku.
“Kamu pasti seneng deh bertemu dia, dia itu modis dan update terus!” jawab Lili.
“Cantik kan adikmu?” tanya Fian.
“Tentu dong!”
“Tapi… kenapa namanya Lele?” bisikku perlahan.
Lala, Lili, dan Lele…
Apa lagi yang lebih parah daripada tiga bersaudari kembar? Yang penting, aku tidak jomblo lagi, itu sudah cukup.


Cerpen Karangan: Rafael Stefan Lawalata
Penulis muda namun berpengalaman, menulis untuk berbagi, berbagi kebahagiaan.
sumber: via cerpenmu
Tag : ,

- Copyright © sekedar X Info - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -