Tampilkan postingan dengan label cerita horror. Tampilkan semua postingan
tinggalah lebih lama
By : Unknown
Tempat ini, aku selalu merindukannya sepanjang tahun, setiap liburan seperti ini aku menyempatkan singgah di rumah nenek karena menariknya di belakang Desa ada Hutan pinus yang selalu membius mataku.
Barisan pohon-pohon pinus yang cantik, udara sebersih embun dan hawa para peri yang kadang membuatku merinding. ibu selalu mengerti kalau aku menyukai tempat ini. aku senang berlama-lama di tempat seperti ini.
“Risaa… turun sebentar nak, ibu punya teh hangat dan semangkuk mie kesukaan mu.” Ibu mengusir lamunanku (lagi).
“iyaa bu… aku turun” aku berteriak sambil mengusap perut.
“oke, hari ini kau turun dalam waktu 3 menit.” Kata ibu sambil melihat jam kulitnya.
“hmmmm…” aku menggumam dengan mulut penuh mie.
“Risa..” suara ibu melembut sambil menatap ku.
“iya bu?…” sepertinya ada sesuatu pikirku.
“kau tahu sabtu malam kau genap berusia 17 tahun?”
“hmmm..” aku hanya mengangguk
“iyaa bu… aku turun” aku berteriak sambil mengusap perut.
“oke, hari ini kau turun dalam waktu 3 menit.” Kata ibu sambil melihat jam kulitnya.
“hmmmm…” aku menggumam dengan mulut penuh mie.
“Risa..” suara ibu melembut sambil menatap ku.
“iya bu?…” sepertinya ada sesuatu pikirku.
“kau tahu sabtu malam kau genap berusia 17 tahun?”
“hmmm..” aku hanya mengangguk
Bagiku perayaan ulang tahun ke-17 tidak terlalu penting. aku hanya butuh doa dari orang-orang yang aku sayangi tidak perlu perayaan-perayaan besar, hadiah-hadiah mewah seperti kebanyakan remaja sepertiku karena menurutku itu hanya membuang-buang tenaga dan juga uang pastinya.
“saat seusiamu ibu sangat dilarang pergi ke hutan oleh nenek, katanya banyak roh-roh jahat di hutan ini.” Ibu bercerita sedikit.
“lalu..?” jawabku santai.
“ibu tau.. kau menyukai tempat ini tapi bisakah kau tidak naik ke hutan pinus sampai akhir minggu ini?”
“uhuk, huk..” aku tersedak, bagaimana mungkin sudah sebesar ini aku masih di larang pergi ke tempat yang ku sukai aku membatin.
Ibu segera mengambilkan ku segelas air putih kemudian menepuk-nepuk pundakku.
“setidaknya kau harus percaya kata ibu!” Ibu meninggalkan ku sendirian dimeja makan.
“lalu..?” jawabku santai.
“ibu tau.. kau menyukai tempat ini tapi bisakah kau tidak naik ke hutan pinus sampai akhir minggu ini?”
“uhuk, huk..” aku tersedak, bagaimana mungkin sudah sebesar ini aku masih di larang pergi ke tempat yang ku sukai aku membatin.
Ibu segera mengambilkan ku segelas air putih kemudian menepuk-nepuk pundakku.
“setidaknya kau harus percaya kata ibu!” Ibu meninggalkan ku sendirian dimeja makan.
Aku berjalan pelan melalui kamar tidurku, berusaha berfikir cuek pada larangan ibu tadi. Sesampainya di kamar aku langsung merebah di tempat tidur mataku tertuju pada jendela kamar yang seperti lukisan hutan pinus tiga dimensi indah sekali.
“mana mungkin di hutan ini banyak roh-roh jahat?” Gumamku dalam hati, aku tambah penasaran. Tak lama malah aku tertidur pulas.
“Risaa..” suara itu lembut sekali seperti alunan angin di padang cemara.
“ya..” aku refleks menengok ke belakang, tidak ada siapa-siapa hanya aku dan puluhan pohon pinus berjejer mengelilingi danau.
“ya..” aku refleks menengok ke belakang, tidak ada siapa-siapa hanya aku dan puluhan pohon pinus berjejer mengelilingi danau.
Aku pun terbangun. Kulihat jam berdetak seimbang di dinding, sudah jam 6 sore pantas saja mimpiku aneh sekali, aku berjalan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di sini aku punya seorang teman namanya Tiar umurnya 15 tahun. Ibu bilang kami sepupu jauh. Tiar pernah bercerita bahwa di hutan pinus ini ada sebuah danau dengan pemandangan bak di surga. Sekali lagi, seperti dia sudah pernah ke surga saja. Selesai membersihkan diri aku berjalan santai ke arah meja makan dan sedikit terkejut dengan munculnya Tiar di sebelah kursi makanku.
“hai kak Risa ayo makan sama-sama.” Ajak bocah itu sambil tertawa kecil.
Aku mencoba tersenyum manis, segera duduk dan menyantap hidangan di meja makan ibu tidak melanjutkan lagi pembicaraan tadi siang tentang umurku dan roh-roh apalah itu aku kurang mengerti. Selesai makan aku dan Tiar pergi duduk-duduk di taman belakang.
“kak Risa ingat cerita tentang danau yang aku bicarakan waktu itu?” Tiar mencoba memulai pembicaraan.
“ingat, bagaimana kelanjutan ceritanya?” aku sedikit penasaran.
“kelanjutannya adalah, hari jumat aku akan menelusuri hutan pinus ini bersama kakak sepupuku Kris, apa kak Risa mau ikut?” nada bicaranya mulai berbisik seolah ini misi rahasia.
“ingat, bagaimana kelanjutan ceritanya?” aku sedikit penasaran.
“kelanjutannya adalah, hari jumat aku akan menelusuri hutan pinus ini bersama kakak sepupuku Kris, apa kak Risa mau ikut?” nada bicaranya mulai berbisik seolah ini misi rahasia.
Aku diam dan berfikir sejenak teringat ucapan ibu tadi siang.
“boleh juga, baiklah aku ikut.” Aku menunjukkan senyum termanis.
“yeaahh..” dia memberikan high five dan segera ku sambut.
“yeaahh..” dia memberikan high five dan segera ku sambut.
—
Kulihat lagi ransel ku “semua sudah selesai di pack, aku juga sudah dapat izin menginap di rumah Tiar malam ini walaupun dengan sedikit berbohong pada ibu dengan alasan akan pergi ke rumah Kris di Desa Sebelah.” Gumam ku dalam hati.
—
“kak Risa, kita harus segera tidur supaya besok pagi tidak kesiangan menembus hutan pinus.” Bisik Tiar dengan gayanya yang seperti agen mata-mata”
Aku mengangguk meledek
“hahaha…” kami tertawa keras lalu bergegas tidur.
Aku mengangguk meledek
“hahaha…” kami tertawa keras lalu bergegas tidur.
—
“kalian berdua siap? Kita akan melewati puluhan pohon pinus di depan nanti.” Kata Kris yang bertingkah seperti leader kelompok pencinta alam.
“hmm..” Kami berdua mengangguk yakin.
“hmm..” Kami berdua mengangguk yakin.
Kris sebenarnya anggota Mapala di kampusnya tak heran ranselnya yang paling besar di antara kami bertiga. badannya yang tegap dan gagah membuatku percaya bahwa Kris bisa melindungiku dan Tiar apabila terjadi sesuatu yang tak kami inginkan.
Langkah pertama memasuki hutan kami melewati dua pohon pinus tua yang daunnya sudah terlihat jarang sungguh itu terlihat seperti gerbang bertuliskan “SELAMAT DATANG”. Jalan setapak yang tersamarkan oleh guguran daun-daun pohon pinus di tambah lembabnya struktur tanah membuat kami harus berhati hati agar tidak tergelincir. Tidak lama kami berjalan, dari kejauhan terdengar bunyi gemericik air.
“itu pasti aliran sungai” kata Kris yang berjalan di belakang kami.
“berarti kita sudah lumayan dekat dengan danau itu ya kak?” Tanya Tiar.
“Yap!!!” kami mempercepat langkah masing-masing dan sesampainya di sungai
“lebih baik kita beristirahat sejenak di sini” kata Kris sambil membasuh wajah nya dengan air sungai.
“oke” aku terduduk di bawah pohon pinus yang tinggi nya kurang lebih 25 meter.
“ah aku lelah sekali, kalian enak tenaganya banyak, aku kan masih kecil” Tiar lalu tumbang berbaring di tanah.
“hati hati kalau tiduran di sini bisa jadi banyak ular.” Kris mencoba menasihati Tiar
“berarti kita sudah lumayan dekat dengan danau itu ya kak?” Tanya Tiar.
“Yap!!!” kami mempercepat langkah masing-masing dan sesampainya di sungai
“lebih baik kita beristirahat sejenak di sini” kata Kris sambil membasuh wajah nya dengan air sungai.
“oke” aku terduduk di bawah pohon pinus yang tinggi nya kurang lebih 25 meter.
“ah aku lelah sekali, kalian enak tenaganya banyak, aku kan masih kecil” Tiar lalu tumbang berbaring di tanah.
“hati hati kalau tiduran di sini bisa jadi banyak ular.” Kris mencoba menasihati Tiar
Aku melihat sekeliling, tanah ini indah sekali air sungainya begitu bening lembut turun ke kaki bukit, sejenak teringat ucapan ibu waktu itu.
“mana mungkin di sini ada roh jahat.” Batinku
“mana mungkin di sini ada roh jahat.” Batinku
Kris menghampiri ku perlahan duduk di smping kiri ku “kau tahu Risa? Mereka menyukaimu.”
“apa?” aku menoleh kaget.
Kris hanya tersenyum lalu berdiri “ayo kita lanjutkan perjalanan, hei Tiar!!! apa kau mau tidur di sini sampai malam? Cepat bangun!”
“aahh ka Kris…” tiar sedikit merengek
“apa?” aku menoleh kaget.
Kris hanya tersenyum lalu berdiri “ayo kita lanjutkan perjalanan, hei Tiar!!! apa kau mau tidur di sini sampai malam? Cepat bangun!”
“aahh ka Kris…” tiar sedikit merengek
Kami berjalan menanjak di sebuah bukit yang berjejer pohon pinus tiba-tiba ada suara seperti aliran air dari atas bukit anehnya suara itu terasa semakin mendekat.
“apa itu suara air?” aku bertanya pada Kris.
“bukan, itu angin bersiaplah mereka akan melewatimu” katanya sambil cengengesan
“kreeesssss…” angin menabrak badan badan pohon pinus di sekelilingku, betul angin itu mendekat turun dari atas bukit dan melewati kami.
“hahaha itu asyik sekali” Tiar kegirangan.
“sekali lagi, mereka menyukaimu Risa” bisik Kris untuk kedua kali.
“sebenarnya apa maksudmu?” Tanyaku penasaran.
Lagi-lagi Kris hanya tersenyum lalu berjalan mendahuluiku.
“apa itu suara air?” aku bertanya pada Kris.
“bukan, itu angin bersiaplah mereka akan melewatimu” katanya sambil cengengesan
“kreeesssss…” angin menabrak badan badan pohon pinus di sekelilingku, betul angin itu mendekat turun dari atas bukit dan melewati kami.
“hahaha itu asyik sekali” Tiar kegirangan.
“sekali lagi, mereka menyukaimu Risa” bisik Kris untuk kedua kali.
“sebenarnya apa maksudmu?” Tanyaku penasaran.
Lagi-lagi Kris hanya tersenyum lalu berjalan mendahuluiku.
—
“ini dia…” Kris mempersembahkan semangkuk air tawar raksasa berwarna hijau bening mengkilat di bawah binar sinar matahari,
Aku dengan nafas yang berlarian mencoba menenangkan diri melihat indahnya bayangan pohon-pohon pinus pada cermin tenang itu, sesekali angin menggoyahkan bayangan tanpa merusak cermin
Aku dengan nafas yang berlarian mencoba menenangkan diri melihat indahnya bayangan pohon-pohon pinus pada cermin tenang itu, sesekali angin menggoyahkan bayangan tanpa merusak cermin
Tiba-tiba ada angin berhembus dari ujung danau, dia melewati kami hawa angin ini terasa lain dingin dan sepi tapi aku tidak terlalu menghiraukan perasaan itu.
Lelah sekali rasanya perjalanan tadi aku merebah pada rumput hijau tak berbatu, Kris datang duduk di sampingku. Mataku terpejam, tempat ini tenang sekali terlalu malas untuk mulai menyapa Kris.
Lelah sekali rasanya perjalanan tadi aku merebah pada rumput hijau tak berbatu, Kris datang duduk di sampingku. Mataku terpejam, tempat ini tenang sekali terlalu malas untuk mulai menyapa Kris.
“Risa..” ada suara lembut menyapa ku
“ya..” aku terbangun dan membuka mata.
“kau suka tempat ini kan? Kami juga menyukaimu tinggallah lebih lama di sini kau bisa berimajinasi sepanjang malam dan berlari lari mengejar angin sepanjang terang. Bukankah itu menyenangkan?” dia dengan suara lembut dan beberapa yang lain tersenyum hangat di belakangnya
“ka..lian… siapa?” aku bertanya terbata.
“tidak ada roh jahat di sini Risa, kami hanya membantumu mendapatkan ketenangan, kau suka tempat ini kan? Kami juga menyukaimu tinggalah lebih lama!”
“a.. aku tidak bisa aku sudah berjanji pulang pada ibu.”
“ibu berbeda dengan mu Risa dia tidak mengerti, kau suka tempat ini kan? Kami juga menyukaimu Tinggalah lebih lama!” dia mulai menggenggam tanganku dengan jemarinya yang hangat, wanginya seperti hujan.
“kak Risa ayo pulang, besok ulang tahunmu” suara yang sangat ku kenal, “Tiar? Dimana dia?” aku mencari-cari.
“kau juga tidak begitu menyukai Tiar, kau suka tempat ini kan? Tinggalah lebih lama!” suara nya semakin berat.
“Risa jangan dengarkan dia!” Kris datang dari belakang memelukkku erat.
“kau suka tempat ini kan, tinggalah lebih lama!” tangan nya mencengkram kuat, suara nya semakin berat wajahnya menghitam, sebagian yang lain di belakang meneteskan air liur dari mulut mereka, yang lainnya lagi perutnya membuncit dengan wajah memerah.
Aku ketakutan setengah mati tapi dia mencengkram tanganku kuat sekali, ya tuhan aku harusnya mendengarkan nasihat ibu, aku ingin pulang.
“aku mau pulang, aku tidak suka kalian dan aku tidak mau tinggal!!” aku berteriak sekuat tenaga.
Mata ku terbuka, nafasku tersenggal dan keringat dingin mengucur membasahi pakaian ku,
“Kris..” aku memanggilnya dia masih terduduk di sampingku sama seperti saat aku terpejam.
“apa ku bilang mereka menyukaimu” kris menatap ku seadanya.
“Tiar ayo kita pulang sebentar lagi senja!” Kris berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun.
“oke, lain kali kita ke sini lagi ya!” kata Tiar sambil berlari menghampiri kami.
“ya..” aku terbangun dan membuka mata.
“kau suka tempat ini kan? Kami juga menyukaimu tinggallah lebih lama di sini kau bisa berimajinasi sepanjang malam dan berlari lari mengejar angin sepanjang terang. Bukankah itu menyenangkan?” dia dengan suara lembut dan beberapa yang lain tersenyum hangat di belakangnya
“ka..lian… siapa?” aku bertanya terbata.
“tidak ada roh jahat di sini Risa, kami hanya membantumu mendapatkan ketenangan, kau suka tempat ini kan? Kami juga menyukaimu tinggalah lebih lama!”
“a.. aku tidak bisa aku sudah berjanji pulang pada ibu.”
“ibu berbeda dengan mu Risa dia tidak mengerti, kau suka tempat ini kan? Kami juga menyukaimu Tinggalah lebih lama!” dia mulai menggenggam tanganku dengan jemarinya yang hangat, wanginya seperti hujan.
“kak Risa ayo pulang, besok ulang tahunmu” suara yang sangat ku kenal, “Tiar? Dimana dia?” aku mencari-cari.
“kau juga tidak begitu menyukai Tiar, kau suka tempat ini kan? Tinggalah lebih lama!” suara nya semakin berat.
“Risa jangan dengarkan dia!” Kris datang dari belakang memelukkku erat.
“kau suka tempat ini kan, tinggalah lebih lama!” tangan nya mencengkram kuat, suara nya semakin berat wajahnya menghitam, sebagian yang lain di belakang meneteskan air liur dari mulut mereka, yang lainnya lagi perutnya membuncit dengan wajah memerah.
Aku ketakutan setengah mati tapi dia mencengkram tanganku kuat sekali, ya tuhan aku harusnya mendengarkan nasihat ibu, aku ingin pulang.
“aku mau pulang, aku tidak suka kalian dan aku tidak mau tinggal!!” aku berteriak sekuat tenaga.
Mata ku terbuka, nafasku tersenggal dan keringat dingin mengucur membasahi pakaian ku,
“Kris..” aku memanggilnya dia masih terduduk di sampingku sama seperti saat aku terpejam.
“apa ku bilang mereka menyukaimu” kris menatap ku seadanya.
“Tiar ayo kita pulang sebentar lagi senja!” Kris berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun.
“oke, lain kali kita ke sini lagi ya!” kata Tiar sambil berlari menghampiri kami.
Nafasku masih tersengal. Sedetik aku melihat kebelakang “tinggalah lebih lama!” mereka melambai memanggil.
Cerpen Karangan: Yuliana Nasution
Facebook: Www.facebook.com/liel.princest
Facebook: Www.facebook.com/liel.princest
sumber : via cerpenmu
Tag :
cerita horror,
kematian diatas dendam
By : Unknown
Setelah sang Dosen mengakhiri perkuliahan di hari Rabu siang ini, puluhan mahasiswa dan mahasiswi pun bergegas meninggalkan ruangan dengan deret-deret kursi yang berada di dalamnya.
“Diandra! Tunggu!!!,” suara Bima terdengar cukup keras memanggil seorang gadis yang berada cukup jauh dari hadapannya, langkah kaki Bima pun dipercepat.
Diandra terhenti, lalu ia menoleh ke belakang, dilihat seorang lelaki yang berlari menghampirinya. “Eh, Bima… ada apa?,” tanya Diandra pada Bima yang kini hanya terpaut dua langkah saja. Bima tak langsung menjawab pertanyaan Diandra tersebut, ia mengatur ritme napasnya terlebih dahulu.
“Ada apa Bim?,” Diandra kembali bertanya.
“Begini… aku mau tanya sama kamu, kenapa Maya nggak masuk kuliah hari ini?, dari kemarin juga nggak ada kabar sama sekali.”
“Aku nggak tahu Bim,” ucap Diandra singkat.
“Kamu kan, sahabatnya?,”
“Iya, tapi aku bener-bener nggak tahu Bima. Dari hari kemarin, aku juga nggak ketemu sama Maya,” jelas Diandra meyakinkan.
“Hmm… o, ya, sekarang aku mau ke kosan Maya. Kamu mau ikut?,” ajak Bima pada gadis berambut lurus sebahu itu.
“Aku nggak bisa.”
“Kalau begitu, aku duluan ya… bye!,” seru Bima dan akhirnya melenggang pergi.
“Asal kamu tahu Bim, MAYA UDAH MATI!!!,”
“Diandra! Tunggu!!!,” suara Bima terdengar cukup keras memanggil seorang gadis yang berada cukup jauh dari hadapannya, langkah kaki Bima pun dipercepat.
Diandra terhenti, lalu ia menoleh ke belakang, dilihat seorang lelaki yang berlari menghampirinya. “Eh, Bima… ada apa?,” tanya Diandra pada Bima yang kini hanya terpaut dua langkah saja. Bima tak langsung menjawab pertanyaan Diandra tersebut, ia mengatur ritme napasnya terlebih dahulu.
“Ada apa Bim?,” Diandra kembali bertanya.
“Begini… aku mau tanya sama kamu, kenapa Maya nggak masuk kuliah hari ini?, dari kemarin juga nggak ada kabar sama sekali.”
“Aku nggak tahu Bim,” ucap Diandra singkat.
“Kamu kan, sahabatnya?,”
“Iya, tapi aku bener-bener nggak tahu Bima. Dari hari kemarin, aku juga nggak ketemu sama Maya,” jelas Diandra meyakinkan.
“Hmm… o, ya, sekarang aku mau ke kosan Maya. Kamu mau ikut?,” ajak Bima pada gadis berambut lurus sebahu itu.
“Aku nggak bisa.”
“Kalau begitu, aku duluan ya… bye!,” seru Bima dan akhirnya melenggang pergi.
“Asal kamu tahu Bim, MAYA UDAH MATI!!!,”
—
Diandra Alexa. Gadis berusia 19 tahun-an ini memiliki wajah oriental, dengan mata sipit, hidung mungil ditambah kuning langsat yang mewarnai kulit mulusnya. Sejak dua tahun yang lalu, Diandra telah terdaftar sebagai mahasiswi jurusan teknik kimia di sebuah Universitas swasta yang ada di kota Bandung.
Masih lekat di ingatannya, saat Maya menggandeng mesra lengan Bima. Ya, sekitar 3 hari yang lalu, lebih tepatnya hari Sabtu; malam Minggu. Kejadian itu tak henti terbayang dalam pikirannya, seperti roll film yang diputar terus menerus.
Masih lekat di ingatannya, saat Maya menggandeng mesra lengan Bima. Ya, sekitar 3 hari yang lalu, lebih tepatnya hari Sabtu; malam Minggu. Kejadian itu tak henti terbayang dalam pikirannya, seperti roll film yang diputar terus menerus.
“Diandra?, ternyata… kamu juga disini?,” tegur Maya.
“Eh, iya May… silahkan duduk!,” jawab Diandra sembari tersenyum—SENYUMAN PALSU!.
“Maaf Diandra… aku dan Bima mau duduk disana!,” balas Maya sambil menunjuk sebuah tempat dan akhirnya berlalu.
“Eh, iya May… silahkan duduk!,” jawab Diandra sembari tersenyum—SENYUMAN PALSU!.
“Maaf Diandra… aku dan Bima mau duduk disana!,” balas Maya sambil menunjuk sebuah tempat dan akhirnya berlalu.
Sepenggal malam di Café ini, tak mungkin Diandra lupakan—TAK AKAN PERNAH!!!. Bagaimana tidak, Bima adalah lelaki yang ia cintai, sedang gadis cantik nan anggun itu ialah sahabatnya.
Diandra tak pernah menceritakan tentang perasaannya pada siapa pun, termasuk Maya. Begitu juga sebaliknya, Maya tak pernah bercerita tentang perasaan yang sama dengan Diandra. Tahu-tahu… Maya dan Bima sudah jadian!, ouhhhh hebat!!!.
“Aku nggak akan pernah biarkan kamu hidup bahagia!, dan Bima akan jadi milik ku!, camkan itu!!!,” kata-kata yang selalu memberontak dalam batin Diandra. Api kebencian baru saja membara.
Diandra tak pernah menceritakan tentang perasaannya pada siapa pun, termasuk Maya. Begitu juga sebaliknya, Maya tak pernah bercerita tentang perasaan yang sama dengan Diandra. Tahu-tahu… Maya dan Bima sudah jadian!, ouhhhh hebat!!!.
“Aku nggak akan pernah biarkan kamu hidup bahagia!, dan Bima akan jadi milik ku!, camkan itu!!!,” kata-kata yang selalu memberontak dalam batin Diandra. Api kebencian baru saja membara.
Pada hari Senin, setelah kejadian malam itu. Tepat pukul 20.30 WIB, Diandra pergi ke kosan Maya.
“Tok… tok… tok…” pintu ber-cat cokelat itu Diandra ketuk berulang kali. Sesaat kemudian, pintu pun tersibak.
“Eh… Diandra, mari masuk!,” ajak Maya dengan ramah. Lalu Diandra masuk, kemudian duduk di kursi.
“Sorry, ya… aku telat,” ucap Diandra.
“Iya, gapapa kok, tenang aja lagi… tugas kelompok ini kan dikumpulinnya minggu depan,” jawab Maya.
“Hehehe… iya. Nih, aku bawain kamu juice stroberi!,” seru Diandra, sambil memberikan juice dalam wadah gelas plastik.
“Wii… thank ya,” jawab Maya. Gadis berperawakan bak model ini memang sangat suka dengan juice stroberi. Tanpa waktu lama, Maya pun segera meminum juice tersebut.
Tetapi setelah beberapa teguk, ia meletakan gelas itu ke atas meja. Ia merasa lehernya tercekik begitu kuat, nafasnya pun tersengal-sengal. Akhirnya ia tak bisa bernafas sama sekali dan mata belo itu melotot sempurna.
“Hahaha… ternyata semudah itu melenyapkan kamu dari dunia ini!. MATI SEKARANG KAMU MAY!!!, hahaha…” ucap Diandra penuh kepuasan. Lalu Diandra, menggusur tubuh Maya dan dibiarkan tergeletak di lantai kamarnya. Tak lupa ia memakai sarung tangan yang sangat tipis untuk menghilangkan sidik jarinya. Kemudian, Diandra mengeluarkan sebotol racun yang ada di saku celana jeans-nya dan di letak kan tak jauh dari samping Maya. Sementara juice tadi, ia tumpahkan di dekat lantai dan sebagiannya lagi di atas dada sahabatnya itu, serta wadahnya ia letak kan di lantai juga.
“Huh… beres!!!,” seru Diandra dan senyuman manis tersungging lebar di bibir tipisnya.
Diandra pun segera bergegas pergi meninggalkan Maya yang sudah tak bernyawa. Hati nurani telah ternoda tinta hitam kebencian. Gelora dendam dalam jiwa, berujung KEMATIAN!!!.
“Tok… tok… tok…” pintu ber-cat cokelat itu Diandra ketuk berulang kali. Sesaat kemudian, pintu pun tersibak.
“Eh… Diandra, mari masuk!,” ajak Maya dengan ramah. Lalu Diandra masuk, kemudian duduk di kursi.
“Sorry, ya… aku telat,” ucap Diandra.
“Iya, gapapa kok, tenang aja lagi… tugas kelompok ini kan dikumpulinnya minggu depan,” jawab Maya.
“Hehehe… iya. Nih, aku bawain kamu juice stroberi!,” seru Diandra, sambil memberikan juice dalam wadah gelas plastik.
“Wii… thank ya,” jawab Maya. Gadis berperawakan bak model ini memang sangat suka dengan juice stroberi. Tanpa waktu lama, Maya pun segera meminum juice tersebut.
Tetapi setelah beberapa teguk, ia meletakan gelas itu ke atas meja. Ia merasa lehernya tercekik begitu kuat, nafasnya pun tersengal-sengal. Akhirnya ia tak bisa bernafas sama sekali dan mata belo itu melotot sempurna.
“Hahaha… ternyata semudah itu melenyapkan kamu dari dunia ini!. MATI SEKARANG KAMU MAY!!!, hahaha…” ucap Diandra penuh kepuasan. Lalu Diandra, menggusur tubuh Maya dan dibiarkan tergeletak di lantai kamarnya. Tak lupa ia memakai sarung tangan yang sangat tipis untuk menghilangkan sidik jarinya. Kemudian, Diandra mengeluarkan sebotol racun yang ada di saku celana jeans-nya dan di letak kan tak jauh dari samping Maya. Sementara juice tadi, ia tumpahkan di dekat lantai dan sebagiannya lagi di atas dada sahabatnya itu, serta wadahnya ia letak kan di lantai juga.
“Huh… beres!!!,” seru Diandra dan senyuman manis tersungging lebar di bibir tipisnya.
Diandra pun segera bergegas pergi meninggalkan Maya yang sudah tak bernyawa. Hati nurani telah ternoda tinta hitam kebencian. Gelora dendam dalam jiwa, berujung KEMATIAN!!!.
—
Kembali pada Rabu siang,
Langkah Bima terhenti setelah ia melihat kerumunan orang di dekat kosan Maya. “Ada apa ya, pak?, kok banyak orang gini?,”tanya Bima pada seorang bapak berkumis tebal.
“Ada mayat di dalam.”
“Maksud bapak?,” Bima bertanya lagi, ia masih belum mengerti atas perkataan Bapak itu, terlihat dari raut wajah Bima yang sangat kebingungan. Belum sempat bapak berkumis tebal menjawab pertanyaan Bima, beberapa orang polisi membawa sekantung plastik mayat yang berisi, lewat di hadapannya. Bau busuk begitu menusuk hidung, tak heran semua orang yang ada disitu menutup indera penciumannya kuat-kuat, bahkan ada beberapa orang yang muntah-muntah.
“Mayat siapa itu pak?,” Bima kembali bertanya.
“Kalau tidak salah, bernama Maya,” Jawab Bapak itu.
“APA? MAYA?” tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas, iya tak percaya kekasih yang sangat di cintainya itu, pergi meninggalkan Bima untuk selama-lamanya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bima pun pergi ke kantor polisi setempat. Tak lupa, ia juga memberitahu Diandra.
Langkah Bima terhenti setelah ia melihat kerumunan orang di dekat kosan Maya. “Ada apa ya, pak?, kok banyak orang gini?,”tanya Bima pada seorang bapak berkumis tebal.
“Ada mayat di dalam.”
“Maksud bapak?,” Bima bertanya lagi, ia masih belum mengerti atas perkataan Bapak itu, terlihat dari raut wajah Bima yang sangat kebingungan. Belum sempat bapak berkumis tebal menjawab pertanyaan Bima, beberapa orang polisi membawa sekantung plastik mayat yang berisi, lewat di hadapannya. Bau busuk begitu menusuk hidung, tak heran semua orang yang ada disitu menutup indera penciumannya kuat-kuat, bahkan ada beberapa orang yang muntah-muntah.
“Mayat siapa itu pak?,” Bima kembali bertanya.
“Kalau tidak salah, bernama Maya,” Jawab Bapak itu.
“APA? MAYA?” tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas, iya tak percaya kekasih yang sangat di cintainya itu, pergi meninggalkan Bima untuk selama-lamanya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bima pun pergi ke kantor polisi setempat. Tak lupa, ia juga memberitahu Diandra.
“Menurut hasil otopsi sementara ini, saudari Maya meninggal karena racun sianida. Pada saat di TKP, kami juga menemukan barang bukti berupa botol yang berisi racun tersebut. Kuat dugaan, saudari Maya bunuh diri,” jelas Pak polisi.
“Nggak!!!, Nggak mungkin!!!.” Bima terlihat sangat terpukul atas kepergian Maya.
“Sudahlah Bim, kita harus terima semua ini!, ucap Diandra berusaha menenangkan.
“Nggak!!!, Nggak mungkin!!!.” Bima terlihat sangat terpukul atas kepergian Maya.
“Sudahlah Bim, kita harus terima semua ini!, ucap Diandra berusaha menenangkan.
Hari-hari terus berlalu, kini hanya Diandra-lah yang setia menemani Bima. Perlahan tapi pasti, Bima pun mulai melupakan Maya. Ya, sekarang Bima mencintai Diandra.
Sore yang indah, angin semilir berhembus begitu damai. Rumput taman terhampar hijau.
“Diandra…” ucap Bima lembut.
“Iya, apa Bim?,” tanya Diandra.
“Aku cinta sama kamu, kamu mau jadi pacar aku?,”
Diandra hanya mengangguk. “Akhirnya, kamu jadi milik aku Bim!,” bisik hatinya. Senja yang menjingga, menjadi saksi bisu antara cinta yang baru saja terpadu.
Bima, lelaki yang berbadan tegap itu tak mengetahui bahwa Diandra-lah yang membunuh Maya. Entah apa yang akan dilakukan Bima jika rahasia itu terkuak.
Sore yang indah, angin semilir berhembus begitu damai. Rumput taman terhampar hijau.
“Diandra…” ucap Bima lembut.
“Iya, apa Bim?,” tanya Diandra.
“Aku cinta sama kamu, kamu mau jadi pacar aku?,”
Diandra hanya mengangguk. “Akhirnya, kamu jadi milik aku Bim!,” bisik hatinya. Senja yang menjingga, menjadi saksi bisu antara cinta yang baru saja terpadu.
Bima, lelaki yang berbadan tegap itu tak mengetahui bahwa Diandra-lah yang membunuh Maya. Entah apa yang akan dilakukan Bima jika rahasia itu terkuak.
Malam telah larut, Diandra tak bisa terpejam. Ia mengambil diary yang sudah lama tak di isinya. Tangannya pun mulai melukiskan kata-kata yang tersirat.
“Bima sekarang jadi miliku. Pedahal akulah yang membunuh Maya, mantannya. Ya, sahabatku sendiri!. Hebat kan!!!, kamu boleh bilang aku licik, penghianat dan sebagainya, terserah!!!. Yang penting aku sekarang bahagia, dendamku sudah terbalaskan, dan… sekarang Bima menjadi miliku. Aku memang egois. Aku akui. Aku memang pendendam!, aku juga tak memungkiri. semua yang aku inginkan harus terwujud, bagaimana pun caranya. Bahkan membunuh sekali pun, aku sanggup!,”
Tiba-tiba lampu yang ada di kamarnya mati. Beberapa detik kemudian, menyala lagi… lalu Diandra melihat sesosok wanita di sudut kamarnya. Sosok yang mirip dengan Maya, rambutnya yang panjang menutupi sebagian sisi kiri wajahnya, mata kanannya melotot. Bau bangkai tercium dari makhluk itu.
“Siapa kamu?,” teriak Diandra ketakutan. Tetapi, sosok itu semakin mendekat… medekat!!!, dan terus mendekat!!!.
Diandra semakin ketakutan, wajahnya menjadi pucat pasi. Sosok itu terus mendekat, kedua tangannya dengan kuku yang sangat panjang dan tajam hendak mencekik leher Diandra.
“Bima sekarang jadi miliku. Pedahal akulah yang membunuh Maya, mantannya. Ya, sahabatku sendiri!. Hebat kan!!!, kamu boleh bilang aku licik, penghianat dan sebagainya, terserah!!!. Yang penting aku sekarang bahagia, dendamku sudah terbalaskan, dan… sekarang Bima menjadi miliku. Aku memang egois. Aku akui. Aku memang pendendam!, aku juga tak memungkiri. semua yang aku inginkan harus terwujud, bagaimana pun caranya. Bahkan membunuh sekali pun, aku sanggup!,”
Tiba-tiba lampu yang ada di kamarnya mati. Beberapa detik kemudian, menyala lagi… lalu Diandra melihat sesosok wanita di sudut kamarnya. Sosok yang mirip dengan Maya, rambutnya yang panjang menutupi sebagian sisi kiri wajahnya, mata kanannya melotot. Bau bangkai tercium dari makhluk itu.
“Siapa kamu?,” teriak Diandra ketakutan. Tetapi, sosok itu semakin mendekat… medekat!!!, dan terus mendekat!!!.
Diandra semakin ketakutan, wajahnya menjadi pucat pasi. Sosok itu terus mendekat, kedua tangannya dengan kuku yang sangat panjang dan tajam hendak mencekik leher Diandra.
Dengan sekuat tenaga, Diandra berlari menuruni tangga yang panjang dan meliuk-liuk. Sosok itu terus mengikutinya. Kaki Diandra tersandung pada anak tangga, dan ia pun jatuh. Terguling beberapa kali. Dan “Bukkkk!!!” kepalanya terhantam pada lantai dasar. Diandra meninggal seketika, sementara sosok itu pun menghilang.
Bendera kuning tertancap tegak di depan halaman rumah Diandra, banyak orang di situ. Termasuk Bima.
“Kamu, pacarnya?” tanya ibu Diandra.
“Iya, bu.”
“Ini, ibu temukan Diary Diandra, mungkin kamu harus membacanya.” Ucap ibu itu sambil menyerahkan diary anaknya.
Bima tak percaya, ternyata Diandra-lah pembunuh Maya. Andai Diandra tahu, kebencian adalah awal dari sebuah kehancuran. Membalas dendam tidak akan meyelesaikan masalah. Andai juga Diandra mengerti, mencintailah sekedarnya saja, jangan mencintai seseorang secara berlebihan. Yang jelas!, jangan dibutakan oleh cinta. Mungkin kematian di atas dendam ini pun tak akan pernah terjadi.
“Kamu, pacarnya?” tanya ibu Diandra.
“Iya, bu.”
“Ini, ibu temukan Diary Diandra, mungkin kamu harus membacanya.” Ucap ibu itu sambil menyerahkan diary anaknya.
Bima tak percaya, ternyata Diandra-lah pembunuh Maya. Andai Diandra tahu, kebencian adalah awal dari sebuah kehancuran. Membalas dendam tidak akan meyelesaikan masalah. Andai juga Diandra mengerti, mencintailah sekedarnya saja, jangan mencintai seseorang secara berlebihan. Yang jelas!, jangan dibutakan oleh cinta. Mungkin kematian di atas dendam ini pun tak akan pernah terjadi.
SELESAI
Cerpen Karangan: Iis Kusniawati
Facebook: Iis Kusniawati
Facebook: Iis Kusniawati
sumber : via cerpenmu
Tag :
cerita horror,
kembaran hantu
By : Unknown
“Aaaaaa…” seruku keras.
Aku terbangun dari mimpi burukku. Sebuah mimpi yang selalu sama setiap harinya, membuatku ketakutan setengah mati. Aku mengusap peluh yang terus menetes di keningku. lalu aku menghembuskan nafas kesal.
“Amel.. ada apa, sih” ucap sepupuku yang terbangun. “ng..ng.. nggak kok, nggak papa. udah, kamu tidur aja, Shiel” jawabku. Shiella kemudian mendengus kesal, lalu tidur kembali.
Aku terbangun dari mimpi burukku. Sebuah mimpi yang selalu sama setiap harinya, membuatku ketakutan setengah mati. Aku mengusap peluh yang terus menetes di keningku. lalu aku menghembuskan nafas kesal.
“Amel.. ada apa, sih” ucap sepupuku yang terbangun. “ng..ng.. nggak kok, nggak papa. udah, kamu tidur aja, Shiel” jawabku. Shiella kemudian mendengus kesal, lalu tidur kembali.
“Kenapa ya. Semenjak aku liburan di rumah tante, aku selalu mimpi buruk” ucapku heran.
“Haaaa, jadi, kamu juga mimpi buruk, mel. Aku juga, lho..” ucap Shiella bingung.
Aku mengangkat bahu, lalu menyesap teh ku. Tak kusangka, bayangan seseorang melintas di belakang sepupuku.
Aku tersedak. Bayangan itu, sangat mirip denganku.
“A, a, aaameel, ken, kenappa or, orang itu mir, mirip de, denganmu” ucap Sheilla terbata-bata, sambil menunjuk belakangku. Aku menengok ke belakang.
serentak, kami pun berlari tak tentu arah sabil menjerit. “Aaaaaaa…” ucapku kesakitan. Terlambat. Tubuhku melayang di udara. Aku terjatuh dari anak tangga saat lari menghindari bayangan itu yang terus mengejarku.
“Haaaa, jadi, kamu juga mimpi buruk, mel. Aku juga, lho..” ucap Shiella bingung.
Aku mengangkat bahu, lalu menyesap teh ku. Tak kusangka, bayangan seseorang melintas di belakang sepupuku.
Aku tersedak. Bayangan itu, sangat mirip denganku.
“A, a, aaameel, ken, kenappa or, orang itu mir, mirip de, denganmu” ucap Sheilla terbata-bata, sambil menunjuk belakangku. Aku menengok ke belakang.
serentak, kami pun berlari tak tentu arah sabil menjerit. “Aaaaaaa…” ucapku kesakitan. Terlambat. Tubuhku melayang di udara. Aku terjatuh dari anak tangga saat lari menghindari bayangan itu yang terus mengejarku.
Saat aku sadar, semua orang tengah menangis di sampingku. Kucari-cari sesosok orang yang menyebabkan aku seperti ini, dikejar-kejar bayangan yang baru kutahu adalah saudari kembarku yang dibunuh oleh tanteku.
Dan saat kulihat bayangan tanteku, aku langsung bangkit duduk.
Semua orang tampak terkejut melihat ulahku, apalagi melihat aku yang melotot kepada tanteku.
“Amel…” ucap tanteku bingung.
“Apa yang tante lakukan pada kembaranku, tante.” ucapku.
Tanteku tampak terkejut dengan perkataanku. Mamaku yang tidak tahu kalau aku mempunyai kembaran heran dan bertanya.
Akhirnya aku meenjelaskan semuanya, apa yang dikatakan oleh arwah saudariku pada saat aku tak sadar.
Dan saat kulihat bayangan tanteku, aku langsung bangkit duduk.
Semua orang tampak terkejut melihat ulahku, apalagi melihat aku yang melotot kepada tanteku.
“Amel…” ucap tanteku bingung.
“Apa yang tante lakukan pada kembaranku, tante.” ucapku.
Tanteku tampak terkejut dengan perkataanku. Mamaku yang tidak tahu kalau aku mempunyai kembaran heran dan bertanya.
Akhirnya aku meenjelaskan semuanya, apa yang dikatakan oleh arwah saudariku pada saat aku tak sadar.
Akhirnya, tanteku mengakui semua perbuatannya di masa lalu. Ternyata tanteku membunuh saudariku itu pada saat ia baru lahir, dan mama belum sempat melihatnya. Alasannya, tanteku iri pada mama yang notabene adalah adik kandungnya sendiri.
Tanteku iri pada mama karena mama mendapat suami yang kaya raya. Dia sendiri mendapat suami yang hidupnya pas-pasan.
Pada saat mama hamil dan melahirkan aku dan kembarnku, tanteku mempunyai rencana jahat dan membunuh saudariku.
Tanteku iri pada mama karena mama mendapat suami yang kaya raya. Dia sendiri mendapat suami yang hidupnya pas-pasan.
Pada saat mama hamil dan melahirkan aku dan kembarnku, tanteku mempunyai rencana jahat dan membunuh saudariku.
Tak kusangka, tantekuu sendiri yang membunuh sadariku…
Cerpen Karangan: Sa’diyah Kumaerroh
sumber : via cerpenmu
Tag :
cerita horror,


